doa dan titis airmata...mengaliri samudera...mencipta gelombang yang menetramkan, tidak mencemaskan...
mengisi kekosongan pengharapan...

Rabu, 06 Januari 2010

tulisan kecil,,,,

Sabtu, 24 Oktober 2009
Konsep Pendidikan Moral yang Final dan Total
Oleh: NURUL LATHIFFAH
MENANAMKAN pendidikan moral bukanlah hal yang mudah. Pasalnya, pendidikan moral bersifat mendalam dan menuntut proses internalisasi nilai. Jika keseluruhan pendidikan hanya mengandalkan hafalan dan aktivitas mekanis lainnya, barangkali masyarakat kita akan menjadi masyarakat yang mind oriented. Dengan kata lain, segala sesuatu akan kita perhitungkan secara rasional, tanpa mempertimbangkan hal-hal yang bersifat emosi dan intuitif lainnya.

Padahal, kita paham bahwa sesuatu yang hanya berpijak pada kekuatan intelektual, sudah pasti akan menyebabkan ketimpangan pada beberapa sisi. Nah, di sinilah pendidikan moral menjadi sangat penting. Sayangnya, meski pendidikan dalam aspek moral ini sangat penting, sampai saat ini kita (bisa dikatakan) hampir mengalami frustrasi. Tidak sedikit pendidik yang mengeluhkan betapa sulitnya memberikan pendidikan moral kepada siswa-siswanya. Tentu hal ini sangat wajar, karena pendidikan moral dipengaruhi banyak hal. Jika pun di lingkungan akademis, siswa atau mahasiswa telah diberi penanaman moral yang baik, tetapi di rumah dan di lingkungannya mengalami kemiskinan figur teladan, maka pendidikan moral kemudian menjadi tidak konsisten. Nah, sampai di sini kita jadi paham, bahwa kerja sama melakukan pendidikan moral memang harus dilakukan, baik oleh pendidik, masyarakat, maupun pemerintah secara berkelindan dan sinergis.

Meski demikian, dalam menyampaikan pendidikan moral, kita tetap memerlukan strategi agar pendidikan moral dapat dipahami serta diinternalisasi. Sekarang persoalannya, bagaimana konsep pendidikan moral yang final dan total? Kita akan merujuk pada perspektif psikologi perkembangan. Kohlberg( Santrock, 2005) mengemukakan bahwa ada tiga tahap penalaran moral yang dilakukan setiap individu secara general. Ketiga tahapan itu adalah prakonvensional, konvensional, dan pascakonvensional.

Tahapan terendah yang sekaligus menjadi level pertama penalaran moral adalah tahapan prakonvensional. Pada taraf ini, individu menaati norma-norma dalam ajaran moral dan kemanusiaan dengan alasan takut mendapatkan hukuman. Dalam tingkat pemahaman ini, tidak ada proses internalisasi nilai. Kepatuhan pada nilai moral dilakukan secara terpaksa.

Selanjutnya pada tahap konvensional, individu memutuskan untuk taat atau tidak taat pada sistem moral dan norma masyarakat dengan alasan agar ia dapat diterima dan mendapat penghargaan secara sosial. Pemahaman moral semacam ini, meski lebih baik dari yang pertama, tapi belum mencerminkan internalisasi nilai. Pemahaman ini masih bersifat perifer dan parsial.

Idealnya, pendidikan harus mampu mengantarkan individu kepada tahap penalaran moral yang terakhir, yakni pascakonvensional. Pada tahap inilah, pertimbangan moral dan internalisasi nilai dilakukan dengan final dan total. Pemahaman semacam ini akan mengantarkan individu untuk melakukan sesuatu bukan semata-mata karena menginginkan reward (hadiah) atau menghindari punishment (hukuman). Akan tetapi, lebih esensi dari itu, individu akan menaati sistem moral dan nilai dalam masyarakatn, dengan kematangan dan kesadaran penuh, tanpa tendensi kepentingan pribadi (materi).

Nah, sampai di mana tahapan penalaran moral peserta didik kita saat ini? Akhirnya, kita perlu menuntut mekanisme pendidikan kita, agar mendesain pendidikan moral yang dapat mengantarkan peserta didik kepada tahapan penalaran moral yang pascakonvensional. Konsep ini adalah starting point bagi kita, untuk membuat strategi khusus agar penalaran pada level ketiga versi Kohlberg dapat dilakukan peserta didik. Ada banyak cara tentunya, dan karena kita mempercayai bahwa setiap individu memiliki individual differences, maka kita paham setiap orang memiliki cara uniknya sendiri. Dan sekali lagi, pendidikan moral adalah tanggung jawab kita bersama, baik pendidik, masyarakat, juga pemerintah. Maka, ia harus tetap kita upayakan secara kolektif, dan total. Wallahu 'alam. (Penulis, aktivis Forum Kajian Psikologi Laboratorium Psikologi Perkembangan UIN Yogyakarta)**

copyright © 2001 www.klik-galamedia.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

mohon pendapat dan masukannya ya ;-)