doa dan titis airmata...mengaliri samudera...mencipta gelombang yang menetramkan, tidak mencemaskan...
mengisi kekosongan pengharapan...

Selasa, 05 Januari 2010

Budaya Membaca
Oleh: Nurul Lathiffah*)
Membaca, sesungguhnya adalah proses mental-psikologis yang cukup fundamental dalam membangun logika pengetahuan, sekaligus merancang konsepsi-konsepsi yang pada gilirannya mencerahkan iklim kreativitas. Sayangnya, budaya massal cenderung mengaksentuasikan sekaligus memberikan ruang komunikasi yang lebih luas dalam aspek oral. Melalui dongeng, nasihat, dan ceramah yang secara substansi mengandung dogma tertentu, kita didewasakan sekaligus diajarkan untuk menguasai budaya oral.
` Perpanjangan dari kasus ini, adalah budaya oral jauh kita kembangkan dengan eksploratif, dan miskin konstruksi secara keilmuan. Fenomena ini sama sekali bukan sebuah kesalahan yang harus dicoret dan ditiadakan. Hanya saja, aspek oral yang tidak ditopang atau sangat minim ditopang oleh teori ilmu pengetahuan dan diksi yang tepat serta linguistik yang tertata hanya akan berakhir pada kesimpulan yang intuitif saja, sama seperti cerita atau narasi yang rumpang akan rasionalisasi yang dapat diandalkan.
Membaca, adalah proses menata ulang konsep pengetahuan, karena pengetahuan di masa lalu masih bersifat parsial. Oleh karena itu, diperlukan totalitas pemahaman agar konsep itu termanifestasikan secara total dalam konstruk pemahaman yang lebih global. Membaca, jika dikaitkan dalam wilayah kepemimpinan, adalah sebuah budaya yang harus diciptakan dengan kesadaran partisipan dan kontinuitas. Bagaimanapun juga, membaca adalah cara paling aman dalam belajar. Ia membentuk pola logika menjadi lebih sistematis, terencana, dan fokus pada permasalahan. Membaca juga sarana efektif dalam mempelajari diksi dan menajamkan kecerdasan linguistik.
Howard Gardner, penggagas multiple intellegence mengemukakan sedikit petunjuk tentang kecerdasan linguistik ini. Kecerdasan linguistik berhubungan dengan kecerdasan memahami diksi, menganalisa penafsiran, menyampaikan gagasan, daya tangkap yang tinggi dan ideal terhadap kalimat yang kompleks, multitafsir, serta kemampuan mempresentasikan gagasannya secara oral dan tulis.
Kecerdasan linguistik, atau yang lebih popular dalam istilah word smart, dapat pula ditafsirkan secara lebih sederhana sebagai kecerdasan mempergunakan kata-kata secara efektif. Kecerdasan linguistik dapat dilejitkan dalam dua jalur yang saling berkelindan. Jalur pertama, membaca pengetahuan kemudian mentransformasikannya dalam simbol-simbol, dan jalur keduanya adalah membaca visualisasi karya atau konsepsi seseorang lalu menelusuri pemahaman seseorang dengan membaca. Keduanya, sesungguhnya akan bermuara pada satu hal yang sama, kemudahan pemahaman.
Membaca, selain mempertajam kecerdasan linguistik, juga dapat meminimalisasi efek dari krisis figur teladan. Kita tahu, betapa novel Ayat-ayat Cinta telah menghadirkan keteladanan yang di Indonesia masih “melangit” dengan karakter Fahri. Jika pembaca yang mengahayati novel ini, pada awalnya menilai kualitas laki-laki dari dimensi fisik, maka membaca novel karya Kang Abik akan mengajarkan sekaligus memberi legitimasi yang kuat bahwa laki-laki dipilih karena kualitas akhlaknya.
Hal ini juga berlaku bagi anak-anak, efek membaca kisah teladan bagi mereka, adalah identifikasi diri dan internalisasi nilai. Psikologi perkembangan meyakini bahwa anak—dengan prinsip kaset kosongnya—memiliki kapasitas yang hebat untuk merekam input apa pun, tanpa mengenal baik atau buruk.
Budaya membaca, meski bisa diciptakan pada usia dewasa, tetapi memiliki idealitas bahwa seharusnya ia mulai terpola sejak usia dini. Ada fenomena yang cukup dasyat dewasa ini. Nampaknya, pemerintah mulai menyadari bahwa pendidikan usia dini sangat penting, sehingga struktur jenjang pendidikan mulai direkonstruksi. Pendidikan Anak Usia Dini mulai dikembangkan agar anak dapat berkembang secara maksimal, agar proses kaderisasi pemimpin bangsa yang berkualitas diupayakan lebih awal. Dalam kasus ini, budaya membaca memang belum bisa diaplikasikan secara langsung, karena mengingat kapasitas belajar anak.
Akan tetapi ini tidak berarti bahwa budaya baca belum bisa ditransformasikan kepada anak. Pada usia dini, memperkenalkan budaya membaca tidak harus dengan mengajarkan membaca, akan tetapi dengan jalur bercerita, memahamkan minat anak pada hal-hal yang sifatnya naratif, atau menumbuhkan minat bertanya dan daya kritis. Seiring dengan kapasitas intelektualnya yang mulai bertambah, anak akan mempelajari cara membaca dengan antusias karena ia paham dan sadar bahwa membaca akan dapat memuaskan dahaga inteletualitasnya sebagai makhluk ‘baru’ di dunia.
Budaya membaca, semestinya memang diciptakan, karena ia tidak tumbuh serta merta. Kebiasaan sikap kritis pada usia dini memang bisa menjadi pemantik budaya gemar membaca. Akan tetapi, ini sama sekali tidak menutup kemungkinan untuk menciptakan budaya gemar membaca bagi awam. Penciptaan budaya membaca, sesungguhnya adalah praksis mengkomunikasikan pengetahuan sekaligus informasi untuk memberi pemahaman dan pencerahan. Pasca reformasi, ketika demokrasi menadapat angin segar dan diberi ruang untuk mengatakan aspirasi masyarakat, tumbuhlah budaya membaca bacaan popular di kalangan awam.
Apa pasal? Iklim ini membuat masyarakat bebas mengakses informasi baik melalui media masa, dan ini membawa sebuah perubahan yang cukup siginifikan: masyarakat telah terinteletualisasi oleh media masa, dengan kemasan bahasa yang ringan tapi mampu mendiskripsikan fakta dan informasi secara total. Hal ini juga dapa dipahami sebagai upaya mencerdaskan generasi karena generasi senior yang cerdas akan mengarahkan generasi di bawahnya untuk mentarnsformasikan pengetahuan meski dalam porsi yang ala kadarnya. Tapi selalu saja, ia akan memberi makna bagi sebuah proses intelektualisasi publik secara masal.
Sayangnya, (entah siapa yang memulai) betapa sering kita memahami membaca sebagai kebiasaan yang introvert dan aktivitas asosial. Padahal membaca secara total sesungguhnya adalah proses transformasi pengetahuan yang meluas, tidak hanya secara individual semata. Kita dilatih secara budaya untuk menyukai dialektika, padahal sesungguhnya aktivitas itu dimulai dari aktivitas membaca. Semua ini berawal dari sesuatu yang sederhana tapi fundamental: menciptakan budaya membaca sehingga mengaktifkan sistem kepekaan. Membaca apa saja. Koran, majalah, buku, tentu dengan menyertakan kreativitas juga totalitas.
*) Nurul Lathiffah, Mahasiswi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial Humaniota UIN Suka Yogyakart

DIAMUAT di merapi, Rabu 6 Januari 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

mohon pendapat dan masukannya ya ;-)