Jumat, 06 November 2009
”Apreciative Inquiry”, Euforia atau Apresiasi?
Oleh: NURUL LATHIFFAH
DEWASA ini, pandangan optimistis tentang manusia semakin berkembang. Ini kita rasakan karena pandangan itu telah menjadi tren tersendiri dalam ranah pendidikan. Tak bisa dimungkiri, ini adalah derivat konseptual psikologi humanistis yang terus berusaha mencari bentuk ideal agar manusia dapat memaksimalkan potensi dirinya. Pada gilirannya, kita kini mulai sadar bahwa konsep yang berakar dari pendangan humanistis membuat dunia pendidikan kita mulai kreatif mencari alternatif-alternatif dan solusi atas frustrasi masif yang dihadapi.
Dalam ranah pendidikan, kini pun kita dihadapkan dengan tren kreatif. Sekolah-sekolah anak berkebutuhan khusus hadir untuk menenteramkan kegelisahan masyarakat dengan konsepnya yang humanis dan membuat kita terpesona bahwa dalam diri manusia selalu ada sisi-sisi positif yang bisa diberdayakan. Artinya, ketika ada satu entitas di mana individu lemah dan bahkan mengalami disfungsi dalam suatu hal, maka kita akan membantunya melakukan upaya kompensasi. Jika kecerdasan intelektualnya memiliki kapasitas sedang, konsekuensinya kita akan mengoptimalkan kecerdasan yang bisa dipelajari, bukan hanya kecerdasan yang "terberi".
Sebenarnya ide ini bukanlah hal yang baru dan asing. Jauh sebelum ini, kita telah diperkenalkan dengan kecerdasan emosi yang membuat kita tersadar bahwa manusia bukanlah makhluk yang mekanistis. Intelegensi bawaan dan kapasitas intelektual nyatanya memang bukan sebuah hal yang menjamin sukses seseorang. Sampai di sini kita paham, bahwa pandangan optimistis terhadap manusia telah melahirkan beragam kecerdsan yang membuat manusia semakin peka menggali potensi dirinya. Salah satu produk pandangan optimistis itu kini bermetamorfosis, menjadi AI atau apreciative inquiry.
Lalu kini pertanyaannya, apa yang membedakan kecerdasan AI dengan pandangan-pandangan humanis yang pernah kita terima dulu? Atau jangan-jangan ia bukan hal yang baru? AI adalah suatu seni dan praktik bertanya yang memperkuat kapasitas manusia dan sistem manusia untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Ia adalah sebuah metode yang menyadarkan manusia bahwa dalam diri manusia selalu ada sisi positif yang bisa diberdayakan, sebagai kompensasi atas minimnya keterampilan manusia dalam beberapa hal.
Ciri yang menonjol dalam AI adalah asumsi yang dibangunnya, bahwa kehidupan adalah misteri. Jika dulu dalam setiap rumusan solusi kita selalu berusaha menentukan problem solving, maka dalam AI, itu dianggap tidak penting. Dalam problem solving, mau tidak mau kita harus menganalisis dan berfokus pada analisis penyebab; suatu hal yang kita anggap menguras energi yang cukup banyak. Sedangkan, AI hanya berfokus pada upaya memberdayakan sesuatu yang mungkin. Ini sekaligus mengarahkan kita agar berfokus pada potensi diri daripada berfokus pada permasalahan dan problema yang dialami.
Konsep AI memang lebih optimistis. Dan karenanya, kita mudah terpesona. Bahkan dengan kehadirannya, kita telah mengalami semacam euforia bahwa setiap manusia memiliki potensi yang sama untuk menonjol dalam beberapa hal. Pun demikian, kita harus tersadar dan tetap menjadi makhluk yang realistis. Bahwasanya, mengapresiasi AI tidak sama dengan percaya sepenuhnya akan konsep yang ditawarkan. Ada hal-hal yang harus kita kritisi. Bahwa, meskipun AI mengajarkan kepada kita untuk berfokus pada kelebihan diri, ia menjadi mendorong kita untuk mengabaikan kelemahan diri. Padahal, dalam beberapa hal kita selalu dituntut untuk cerdas dalam hal tertentu.
Akhirnya, kita memang harus mengapresiasi kehadiran AI. Tapi tidak dengan sikap euforia dan pengabaian fanatik terhadap kelemahan diri. Kebijaksanaan kita menyikapi dan memfilter konsep yang masih hangat untuk kalangan kita ini akan menentukan nilai kontribusi AI. Yang pasti, kecerdasan mengapresiasi apa pun bentuknya selalu kita butuhkan untuk memaksimalkan motivasi. Motivasi dalam ranah pendidikan, tempat kerja, masyarakat, juga motivasi dalam ranah apa saja. Hanya saja yang perlu kita waspadai, apresiasi sebaiknya tetap diimbangi dengan perbaikan kualitas "kelemahan" diri. (Penulis, aktivis Forum Kajian Psikologi Perkembangan, Laboratorium Psikologi Perkembangan UIN Suka Yogyakarta)**
copyright © 2001 www.klik-galamedia.com
Rabu, 06 Januari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
mohon pendapat dan masukannya ya ;-)