Malam di Pucuk daun
; dan embun di ujung kelabu
dalam syair, lama kutafsir angin juga dederu yang sempat-
engkau panggil, di wajahku
tiba-tiba melintas, kenangan yang pernah rebah
dan membagi wangi yang tinggal senafas
kusimpan dalam seruang, sewaktu
membeku, dan menyederhanakan harapan
tentang pernikahan kenanga, anggrek, juga melati
penyederhanaan itu
seperti airmata kita yang melelah
di waktu yang tak sama, di cuaca yang tak sama
tapi sama terkumpul dalam keheningan
yang pernah kita sebut sebagai perahu keabadian
di situ dayung tak bermakna kayu apalagi kayuh
sementara malam di pucuk daun
dan embun di ujung kelabu
belum juga menjadi sauh di mataku
Yogyakarta, Desember 2009
Di Rintikmu, Kutulis Doa
: fatan
sejerih, melukis doa di rintikmu yang sering turun
sangat tergesa, mengejar waktu yang semakin bersayap
seperti aku menuju aqabah
dan jika tak sampai, sejarah kita hanya tergenang airmata
perjalanan yang mendaki lagi sulit
tapi, di rintikmu, aku telah berjanji hendak menulis doa
agar jika jatuh,
ia akan bercerita, tidak tentang kesia-siaan
tapi tentang kejerihan, juga kejernihan
dan seperti biasa, langit mengelam
aku masih mengejar rintikmu dengan doa
dan tinta tinta yang bening, mungkin tak menandai kata
juga jejak doa sekhalis awan kepada hujan
Yogyakarta, Desember 2009
, Nurul Lathiffah, Lahir di Kulon Progo, 21 September 1989. Menulis puisi, cerpen, artikel kecil dan esai. Beberapa tulisannya pernah di muat di SKH kedaulatan Rakyat, Koran Minggu Pagi, Harian Jogja, Bernas Jogja, Koran Merapi, Buletin Lontar, Majalah Sastra Horison, dan Majalah Sabili. Saat ini berupaya menempuh studi pada studi psikologi, fakultas ilmu social dan humaniora UIN sunan Kalijaga Yogyakarta.
Selasa, 05 Januari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
mohon pendapat dan masukannya ya ;-)