doa dan titis airmata...mengaliri samudera...mencipta gelombang yang menetramkan, tidak mencemaskan...
mengisi kekosongan pengharapan...

Selasa, 05 Januari 2010

puisi

PuisiPuisi Nurul Lathiffah

Untuk Fatan
:pertama,

sebenarnya, aku meneteskan airmata seirama embun
di sela daun, dan diamdiam kuharap engkau tahu
memang cuaca masih temaram dan suarasuara dari langit
masih saja berjatuhan

aku semakin yakin, sulit bagimu
;membaca apa yang kutuliskan
//tapi katamu,
kau akan menjaga kita dengan doa//
(sepertinya aku percaya)

maka aku melihat cahaya kata
juga suara yang datang dari kejauhan
membawa pergi kesenyapan yang menyelubungiku
cukup lama

ada tiga hal yang kini menjaga kita
: cinta, airmata, juga doa

san kuhias cuaca yang tak selalu indah
--sebuah cara sederhana mendiamkan air,
yang bertemu bebatuan—

KulonProgo, 17 September 2009

Untuk Fatan
:kedua,

tak ada catatan yang hendak kuangsurkan-
padamu
tapi berserakan puisi yang kutulis
semakin mendewasa menjadi sajak
dan disitu aku belajar, mengatur baris demi baris
;asa

pun meski begitu,
mustahil menafikan cahaya
dari ranting-ranting kata yang kau kumpulkan
lalu kau bakar menjadi pelita

akh, apa engkau lelah?

aku hanya membaca
sampai sejauh kata dan isyarat terhampar
dan pelitamu masih terang
entah. Maaf,
(diam-diam, bolehkah aku ikut menjaga nyalanya?)

KulonProgo, 17 September 2009

Kertas, Syair, dan Abu

Tuhan—
di luar, hujan berlarian, berlompatan,
ada kertas yang ramai katakata
sebaiknya kutaruh di luar, biar disucikan

tapi, itu syair yang pernah kami tulis
di kertas yang sama, di waktu yang berlainan,

I aku takut kehilangan jejakjejak yang pernah-
membuat lelahku semakin tegar
II aku takut, jika ini adalah hujan penghabisan
dengan apa kelak aku akan menghapusnya?

Tuhan—
jika ini adalah hujan penghabisan
dan syair kami harus dilupakan
kirimkan kepada kami apiMu di suatu ketika
dan hadirkan kami, di dekatnya

kami akan kusyu’ membakarnya
dan melafal syukur, bukan airmata

KulonProgo, 17 September 2009

Ibu
:di mana engkau rahasiakan rumahmu?

Ibu,
dan ketegaranku yang mulai menyusut-
mulai menciptakan rinduku padamu

maka perjalananku selalu berhulu,
kepadamu. Di rumahku
--yang penuh kupukupu—

dan aku pulang, padamu
ada garis tua semakin giat mencatat usia

masih banyak kupukupu jingga, juga biru
mengingatkanku pada caramu, mengepang rambutku

tapi setelah aku pamit dan menyeka airmatamu,
kau bisikkan kepada tanganku,
“Ibu pun akan pulang, ke rumah kupukupu
juga tempat muasal madu”

KulonProgo, 17 September 2009


Rifka Zammilah
: aku ingin melipat wajah, bersamamu

Dek, katakatamu telah mengelopak
dari kuncup yang pernah kunafikan
tapi selalu kau rawat;maaf.

kelak kau pasti akan paham
seperti awan yang menyaksikan bahwa
selalu ada gerimis yang turun menjadi hujan lebat,
di tempat yang lain

Dek, kini aku inginmelipat wajahku bersamamu

kau memang tak pernah menarasikan
asalusul gerakan rahasia dan sederhana itu
tapi karena kau masih melipat wajah serapat itu,

aku akan bersamamu, di sampingmu
melipat wajahku

KulonProgo, 17 September 2009

Sebuah Jawaban
;untuk iman

maaf, terlalu lama aku menafikan dan
semakin panjang langkah demi langkah
meninggalkanmu, iman

aku ingin membaca banyak hal,
yang belum juga kau ceritakan

tentang rosella yang memutih atau memerah
tentang cahaya yang indah atau membakar wajah

iman,
setelah aku ditusuk duri-duri di luar sana
aku kini menjawab sapamu, tulusmu

maafkan aku

barangkali aku harus bersabar, mendengar ceritamu
kelak, di saat yang tepat

dan jadi bekal, agar lebih kuat, menahan luka
kelak,

KulonProgo, 17 September 2009


Nurul Lathiffah,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

mohon pendapat dan masukannya ya ;-)