doa dan titis airmata...mengaliri samudera...mencipta gelombang yang menetramkan, tidak mencemaskan...
mengisi kekosongan pengharapan...

Rabu, 06 Januari 2010

puisi puisi yang mendekati puisi

Nurul Lathiffah

Euforia

di matamu aku melipat daun. Menghisap udara basah
sissa hujan dalam kilau gerimis. di celah air,
aku menghitung jarak antara takut dan cinta
biar Tuhan mengisinya dengan keridhaan

di hening katakata yang kau sembunyikan
diam-diam saat aku gerimis airmata
kutemukan serpihan yang hancur du garis masa
melalui sedeikit kerut di wajahmu. Dan air menurunkan sesuatu

Yogyakarta, November 2008

Surat I

aku tahu. kau sandarkan katakat
yang padasaat gerimis, pernah kau halau jauh-jauh
karena itu menggarami luka yang pernah berdarah
oleh kilau airmata dalam sebuah senja

aku tahu. surat tak mesti ada huruf yang mati
di atas kanvas putih
suratmu,
selalu dibahasakan dengan gerak langkah yang menjauh
dengan tiap lembar wajah yang menunduk
dengan sinar mata yang meredup

sudah kuterima suratmu
tak mungkin ambigu
aku tahu.

Yogyakarta, November 2008

Rintik Kata

Bismillah. Tuhan, rintikkan katakata jadi hujan
yang membesahi cuaca di sepenjang garis tangan
: seorang perempuan
yang Kau kirimkan bersama kuntum-kuntum syahadah

Bismillah. Tuhan, rintikkan katakatku
jadi ombak yang jatuh dan aku adalah sampan
: aku ingin berlabuh
keluh, aku titipkan sauh.
Tuhan. cukup jaga ia dengan rintik cuaca yang basah
yang menumbuhkan segala, senantiasa

Yogyakarta, November 2008
( yang) Baru Reda

dalam geliat airmata. ada darah yang disimpan
dan ia jauh dari merah
demi
: (yang) baru reda
kucoba merekatkan katakata dengan airmata
membuka masa-masa yang dilembari episode
angina utara dan wangi ilalang
karena ada
(yang ) baru reda. jangan coba-coba
menelusupkan airmata, apalagi narasi yang panjang

Yogyakarta, November 2008

Surat II

satu-satu. kusalin huruf demi huruf ke dalam
altar yang hendak ku selubung rapat
dalam kesangsian yang panjang
: batas utara dan selatan

satusatu. kubersihkan lagi suratmu//
//menjadi seputuih harapan Tuhan atas ku
karena betapapun kata itu
menyihir tawa jadi tangis
ia rapuh. aku tahu. kita paling tak jujur
pada puisi


Yogyakarta, November 2008

Nurul Lathiffah, Lahir di Kulon Progo, 21 September 1989. Selepa SMA melanjutkan studi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada FakultasIlmu social dan Humaniora, Program studi Psikologi. Menulis puisi dan Cerpen. Tulisannya pernah di muat di majalah Sabili, Horison, Buletin Lontar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

mohon pendapat dan masukannya ya ;-)