doa dan titis airmata...mengaliri samudera...mencipta gelombang yang menetramkan, tidak mencemaskan...
mengisi kekosongan pengharapan...

Rabu, 06 Januari 2010

Anak-anak dalam Kepungan Lagu-lagu Dewasa
Oleh: NURUL LATHIFFAH
ASUMSI bahwa anak-anak lebih akrab dengan lagu remaja adalah fenomena yang kita amini bersama. Sejalan dengan tayangan media yang memopulerkan idola cilik yang membawakan lagu-lagu bernuansa remaja, lagu-lagu itu secara bahasa dan kosakata menjadi lebih akrab dan dekat dengan anak-anak. Media massa memang telah berhasil membentuk mindset yang meyakini bahwa menyanyikan lagu dewasa bagi anak, merupakan sebuah pelatihan dan pertunjukan yang luar biasa. Anak-anak kini dalam kepungan lagu-lagu dewasa.

Pada awalnya, hal ini kita terima dengan respons yang wajar. Sepintas, semua tampak baik-baik saja. Rating acara televisi yang menyajikan idola cilik menyenandungkan lagu-lagu dengan konten remaja madi melambung. Penonton meski tidak mendapatkan sebuah nilai estetis, secara alami telah mendapatkan hiburan yang menyenangkan. Mungkin sebuah kelucuan ekspresi. Atau bisa jadi, suatu hal langka dan harus diapresiasi.

Sayangnya, untuk sebuah pertunjukan fantatis ini, kita harus membayar mahal dengan akibat yang berbahaya bagi anak-anak. Ada semacam pendewasaan secara tidak sehat yang coba kita paksakan secara halus kepada anak-anak. Konsep-konsep tentang cinta lawan jenis, cemburu buta, pacaran, dan sejenisnya telah kita perkenalkan dengan intens, melalui lagu-lagu dewasa dan ini secara alami akan menyita energi psikis mereka.

Idealnya, anak-anak berfokus pada latihan keterampilan dasa, dan bukan pada emosi-emosi orang dewasa yang agak sulit dipahami dengan kapasitasnya. Lompatan pembelajaran semacam ini, berpotensi melemahkan anak dalam mempelajari kecerdasan dasar untuk menunjang keterampilan dan kecerdasannya di masa depan. Perpanjangan dari fenomena yang kita biarkan begitu saja ini, adalah daya konsentrasi anak yang seharusnya berfokus pada pelajaran membaca dan operasi hitung sederhana berkurang. Anak-anak menjadi lebih sulit berkonsentrasi.

Apakah kedekatan anak-anak dengan lagu remaja ini mengisyaratkan bahwa kita miskin lagu-lagu anak-anak? Mungkin benar. Kita kurang hangat pada lagu-lagu anak-anak. Media tampaknya lebih berpihak pada keuntungan finansial daripada keuntungan jangka panjang. Anak-anak (seringkali) hanya dapat mengakses lagu-lagu dunianya di sekolah. Selebihnya, mereka mendengar lagu-lagu remaja. Hal ini minimal memberikan efek bagi anak-anak, yaitu terbiasa dengan lagu-lagu dewasa dan mulai larut di dalamnya.

Akhirnya, kita (memang) harus mengakrabkan anak-anak dengan dunianya, dengan lagu-lagu yang setaraf dengan perkembangannya agar mereka memaksimalkan tahap perkembangannya. Ada banyak hal yang bisa dikerjakan. Mulai dari memberi kesempatan bagi lagu anak-anak untuk diperdengarkan bersama, memperbanyak acara untuk anak-anak dengan sajian lagu-lagu lucunya, juga memberi motivasi pada anak agar bangga menyanyikan lagunya. Harapannya, ke depan generasi kita akan lebih mampu berfokus pada tahapan perkembangannya. Sehingga tugas-tugas perkembangan seperti membaca, menulis, dan berhitung dapat diselesaikan dengan maksimal. Wallahualam. (Penulis, aktivis forum kajian psikologi perkembangan, Lasiper UIN Suka Yogyakarta)**
galamedia, jumat 9 oktober 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

mohon pendapat dan masukannya ya ;-)