menata Ikhlas
:NurulLathiffah
Asesment, secara sederhana didefinisikan sebagai pemeriksaan kondisi seseorang secara keseluruhan, baik positif maupun negatifnya. Dalam definisi ini, makna assessment sangat luas, ia tidak berhenti pada taraf penyembuhan terhadap gangguan yang bersifat negative. Tetapi, ia melampaui dengan menawarkan strategi untuk memaksimalkan potensi positifnya menjadi pemantik kesuksesan di masa depan. Ikhlas, adalah salah satu sikap yang positif, dan bermakna penerimaan positif. Tentu, bukan berarti menerima apa adanya sebelum berupaya, karenanya konsep ini sangat menarik untuk diuraikan.
Ikhlas, dalam terminologi psikologi diistilahkan dengan penerimaan secara positif, yakni unconditional positive regards. Oleh karena itu, sangat menarik membahas tema ini. Ikhlas, adalah konsep islami, yang jauh lebih bermakna daripada pengaktifan defence mechanism semacam represi. Defence mechanism,mereaksi bahaya yang muncul dengan dua cara—versi Freudian—yakni, dengan membentengi impuls sehingga tidak dapat muncul menjadi tingkah laku sadar dan yang kedua, membelokkan impuls itu sehingga intensitas aslinya dapat dilemahkan atau diubah. Represi, dalam konteks Freudian disefinisikan sebagai proses ego memakai kekuatan untuk menekan segala sesuatu yangberupa hasrat tak sampai. Represi dapat membuat individu menekan perasaannya, namun, jika tidak mampu ditekan, dan telah,mencapai ambang batas, represi menjadi semacam sebab timbulnya perilaku pelampiasan.
Sampai di titik inilah,kita percaya bahwa mekanisme pertahanan—dalam hal ini—represi, kurang andal dan miskin nilai makna untuk digunakan secara fleksibel menghadapi krisis pada tahap kehidupan dan masa-masa transisi lainnya. Barangkat dari alur inilah, konsep ikhlas menjadi hal yang cukup menarik untuk diungkap dan dipahami sebagai sebuah potensi kebaikan. Pasalnya, ikhlas menawarkan totalitas menerima sesuatu secara utuh, berdamai dengan masa lalu, dan tanpa risiko menahan hasrat terpendam. Ikhlas, dalam konsep psikologi Islam adalah mekanisme pertahanan yang cukup kuat dan efektif. Bahkan, ia lebih dari sekedar mekanisme pertahanan. Ikhlas, adalah afeksi positif yang harus dikembangkan dan disertakan dalam sikap hidup agar menimbulkan perasaan positif..
Perasaan positif, yang dihadirkan dari derivasi ikhlas inilah yang kemudian akan menimbulkan spirit untuk tetap mengupayakan sikap terbaik dalam hidup. Ikhlas, dalam bentuk apapun, selalu mampu memudahkan individu untuk meraih spiritualitas dan makna-makna hidup yang tidak linier dan statis. Psikologi islami, di wilayah memiliki wewenang yang cukup berwibawa untuk menjelaskan konsep ikhlas, karena bagaimanapun juga, konsep ini lahir dan berkembang dari konsep-konsep Islam. Bahkan dalan sejarah nubuwwah (kenabian) ikhlas adalah sesuatu yang urgen dan mendorong individu untukik dapat mengatasidan menerima kondisi sekritis apa pun.
Konsep Ikhlas, dengan demikian, termasuk sebuah konsep yang cukup profetis. Artinya, ia berangkat dari nilai-nilai Rabbani yang juga diimbangi dengan insani. Ini adalah sebuah kajian yang menarik. Makalah ini, berupaya menguraikan konsep ikhlas sebagai sebuah assessment psikologi menurut pandangan Islam, dengan komparasi teori barat agar menghasilkan pandangan yang lebih proporsional. Pada muaranya, ini akan menghasilkan pandangan yang positif tentang ikhlas, dan manfaatnya dalam melejitkan potensi-potensi yang ada pada diri individu, dalam keadaan sekrisis apa saja. Ini, adalah starting point untuk meningkatkan kualitas hidup dan kehidupan,masing-masing individu.
PEMBAHASAN
A. Definisi Operasional
Definisi ikhlas, akan dimulai dengan definisi yang diambil dari Al-Qur’an. Al-Qur’an, mendefinsikan ikhlas, dengan semacam perumpamaan yang cukup representative untuk memahami definisi ikhlas.
“…Di antara kotoran dan darah, ada susu yang khalis—ikhlas, murni—mudah ditelan bagi peneguknya…” (QS. An Nahl: 66)
Dari definsi inilah, ikhlas berarti melakukan sesuatu dengan murni, memfokuskan niat hanya padaNya. Dalam terminologi psikologi sosial, perilaku ini dekat maknanya dengan perilaku altruis. Secara lebih luas lagi, ikhlas juga mengandung makna muraqabah (pengawasan). Ikhlas, tidak mengandung riya’, dan niat selalu dijaga untu tidak bergeser. Niat dalam apapun, baik dalam menerima keadaan, bahkan dalam melakukan kebaikan dan upaya perbaikan.
Muraqabah, identik dengan ihsan. Muraqabah, dikonsepsikan oleh Rasulullah SAW dalam fragmen hadisnya, “ Engkau ibadahi Allah seakan-akan engkau melihatNya, jika Engkau tak melihatnya, yakinlah..Ia melihatmu”. Secara lebih lengkap, Al-Qur’an juga member keteladanan tentang ikhlas. Berikut adalah tentang keikhlasan Ali Raddhiyallahu ‘Anhu yang diabadikan dalam Al-Qur’an,
“ Orang-orang yang menginfakkan hartanya pada malam hari dan pada siang hari,secara sembunyi-sembunyi dan secara terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Rabbnya. Tiada kekhawatiran atas mereka, dan tidaklah pula mereka bersedih hati” (Al-Baqarah: 274).
Ikhlas, dengan demikian tidak sama dengan menghindari dari pengawasan orang lain. Ikhlas, muncul secara internal, dari dalam hati. Ia berarti menerima dengan penuh, atau melakukan hal-hal secara altruistik. Selanjutnya, ikhlas adalah perbuatan yang selalu kompromis dengan keadaan apapun. Ikhlas, selalu ada meski dalam keadaan senang, duka, gelisah, juga yakin. Ikhlas, dalam keadaan apa pun akan membuta seseorang mampu melakukan hal-hal dengan tulus.
Dengan demikian, al-Qur’an mengonsepsikan ikhlas secara sangat detail. Ikhlas, dalam bentuk apapun adalah pemantik untuk selalu bergerak. Hal ini, diyakinkan dengan perintah Allah untuk ikhlas. Ikhlas mengajarkan untuk tetap bergerak.
“ Berangkatlah baik dalam keadaan merasa ringan atau merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. ( Qs At-Taubah: 41).
Ikhlas, dengan demikian bisa diupayakan. Hal ini dalam psikologi Barat dijelaskan dengan baik oleh James Lange. Ia merumuskan, bahwa emosi dapat diciptakan melalui gerak fisik. Selanjutnya, perasaan akan mengikuti. James Lange, secara konkrti mencontohkan bahwa individu yang menangis akan menjadi sedih. Dengan demikian, perasaan dapat diuapayakan, sejalan dengan gerak fisik seseorang. Ini berarti bahwa, sikap ikhlas itu dapat diupayakan dan diciptakan, meski awalnya berawal dari sesuatu yang berat bahkan dipaksakan. Teori james Lange yang cukup sederhana telah mampu menjelaskannya.
Meskipun demikian, keikhlasan seorang muslim sebaiknya diwujudkan dalam niat. Niat melakukan apa saja, seperti firman Allah SWT,
“ Hadapkanlah wajahmu di setiap shalat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepadaNya” ( Qs Al A’raf; 29).
Dalam hal keikhlasan niat, ia adalah starting point utnuk dapat berpikiran positive dan mempercayakan segala takdir atas upaya-upaya yang telah dilakukan makhluk pada Allah SWT. Keikhlasan, juga berarti menjaga dari perusak keikhlasan seperti pamer, sombong, ambisius, dan sebagainya. Dengan demikian, beberapa item di atas dapat menjadi indikator orang-orang yang ikhlas.
B. Aspek-aspek yang Akan Diukur
Dari beberapa definisi operasional di atas, indikator perilaku ikhlas dapat dirumuskan sebagaimana Al-Qur’an telah mendefinisikannya, yakni perilaku ikhlas ditandai oleh;
1. Niat atau intensi untuk melakukan segala hal, hanya untuk meraih ridha Allah SWT.
Ini merupakan perpanjangan dari pemahaman bahwa ikhlas adalah pengabdian murni. Ia adalah bagian dari tindakan altruistik. Bedanya, iklhas mempercayai hal-hal esoteric seperti rewards dari Allah, yakni pahala bagi orang-orang yang berperilaku ikhlas. Dalam bahasa nubuwwah, ikhlas dalam hal niat diterangkan dalam hadist,
“ Sesungguhnya setiap amal itu beserta niatannya, dan bagi setiap orang apa yang diniatkannya. Maka siapa yang berhijrah kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itu menuju Allah dan RasulNya. Dan siapa yang hijrahnya untuk dunia yang ingin didapatkannya atau untuk wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu menuju kepada apa yang ditujunya.”
(HR. Bukhari Muslim).
Dalam parameter ini, ikhlas juga diharuskan murni. Ia murni dari segala niat selain hanya padaNya. Ini, secara alami akan mengantarkan pada sebuah kondisi di mana ihsan, pengawasan (muraqabah) dan ketaqwaan yang hakiki. Ikhlas, harus terjaga dari tendensi-tendensi yang merusak niat.
2. Ikhlas adalah pengabdian murni yang membuat individu mampu memiliki perasaan positif terhadap apa yang ia lakukan
Dalam hal ini, ikhlas adalah proses mengupayakan perasaan, dan proses mengupayakan penerimaan. Dalam psikologi barat, ia sangat mirip dengan konsep unconditional positive regards. Pasalnya, pada individu yang mencoba ikhlas, ia akan mengupayakan penerimaan poisitif tanpa syarat, dan karena perasaan positif ini berkembang maka individu akan memandang segala sesuatu secara lebih kreatif. Penerimaan positif tanpa syarat ini, dalam paradigma humanistic adalah prasyarat untuk menyembuhkan stress dan depresi.
Dalam derivasinya, perasaan positif terhadap apa yang menimpa seseorang akan mengarahkan individu untuk memahami sesuatu secara objektif dan apa adanya. Oleh karena itu, perbuatan ikhlas akan memudahkan individu untuk dapat bertahan di masa-masa krisis dan sulit. Akan tetapi, dalam pengertian ini, ikhlas tidak berarti timbul begitu saja. Ikhlas dapat berangkat dari perasaan yang berat, dan ia mengalami semacam rasionalisasi atau pembiasaan serta perasaan positif yang dibangun sedkit demi sedikit. Dengan demikian, semakin memperjelas, bahwa iklhas bukanlah sikap pemberian dari Allah SWT. Tetapi, ikhlas dapat diupayakan, meski awalnya ia berangka dari ketidakrelaan. Di titik inilah, ikhlas menjadi hal yang sangat menarik untuk dibicarakan.
Dalam istilah islami, poin dapat diwakili oleh konsep ridha. Perasaan ini adalah hal yang bersifat afeksional, menerima dengan sepenuh hati, kadang dilakukan dengan logika akal maupun logika hati. Secara positif, logika hati berarti logika yang merupakan hasil bimbungan Allah, bersifat intuitif, dan termanifestasi dalam bentuk hidayah dan firasat. Logika ini, kadang bersifat irasional dan lebih mengedepankan perasaan. Berbeda dengan logika akal, pemahaman yang berdasarkan pemahamn ini kan mengakibatkan seseorang untuk berfikir secara rasional, sistematis, dam logis.
Apa makna semua ini? Ikhlas, dapat diupayakn dengan jalur memahami persoalan secara akal maupun hati (perasaan). Sehingga, terkadang ikhlas tetap dapat muncul dalam keadaan yang seolah tidak mungkin sekalipun. Di sini, ikhlas adalah hasil pengelolaan perasaan yang terproses secara bijaksana dan dengan pertimbangan yang matang. Ridha, mengarahkan individu untuk dapat menerima sesuatu secara objektif dan jujur, berkompromi dengan perasaan, dan kemudian dilanjutkan dengan sikap memperbaiki keadaan.
3. Ikhlas berarti menaklukan perasaan egois, dan membangun kepercayaan padaNya bahwa segala sesuatu memiliki ibrah yang tersuratdan tersirat.
Ikhlas, sejak awal dipahami sebagai kerja akal dan hati. Ikhlas adalah upaya menaklukan dan mengelola perasaan-perasaan tidak nyaman yang berpotensi mengakibatkan depresi. Ikhlas dalam hal ini juga bermakna menyandarkan semua padaNya, dengan cara mempercayakan adanya hikmah-hikmah dalam kondisi pling sulit yang telah iaterima dan hadapi. Dengan demikian, orang yang ikhlas akan menempatkan perasaan secara adil. Ia tidak larut dalam perasaan ego dan need, atau bahkan insting yang memiliki tingkatan kebutuhan paling dasar dari makhluk Tuhan bernama manusia.
Akan tetapi, ikhlas adalah proses mengelola perasaan dan menciptakan perasaan positif. Ini berbeda dengan menafikan keinginan. Konsep ini juga tidak berarti bahwa manusia nir tujuan. Akan tetapi, ia mengaksentuasikan bahwa perasaan, hasrat, dan egoism manusia akan dikelola secara positif, dalam perilaku-perilaku ikhlas karena motivasi mendapat pahala dari Allah SWt sekaligus mendapatkan perasaan poisitf yang membuat individu semakin mampu menghargai dirinya sendiri.
Tiga entitas ini, secara sederhana telah mampu menjadi indikator dari sikap ikhlas. Tentu, ini diambil dari definisi operasional yang telah dituliskan pada bagian yang lebih awal.
C. Manfaat Ikhlas
Ikhlas dalam bahasa Al-Qur’an, tak hanya bermanfaat bagi pelakunya, tetapi juga bagi orang lain, atau subjek yang dikenai. Ia akan menimbulkan perasaan positif dan perasaan nyaman. Ikhlas, juga merupakan sikap posotof untuk mengatasi krisis sesulit apa pun. Ini sejalan dengan konsep penerimaan tanpa syarat yang ada dalam entri kata; ikhlas. Dalam psikologi humanistic, ikhlas menjadi kata kunci untuk dapat sembubdan terhindar dari gejala stress atau depresi. Apa pasal? Karena ikhlas juga bermakna toleransi. Kadar toleransi yang tinggi baik terhadap orang lain ataupun keadaan-keadaan yang tidak disukai juga akan menimbulkan perilaku adaptasi yang efektif, yang merupakan cirri dari tercapainya tingkat kesehatan mental yang baik.
Berikutnya, ikhlas membuat seseorang yang melakukan pekerjaan dengan hati berat menjadi ringan. Individu dengan sikap ikhlas akan lebih dapat melaskanakan tugas dengan lebih optimal karena ia selalu mengupayakan perasaan poisitf dan mengabaikan harapan-harapan yang akan merusak perilaku altruistiknya. Ikhlas juga merupakan awal yang baik untuk menciptakan perilaku yang lebih tulus dan humanis.
Dalam perspektif islam, ikhlas memiliki dua manfaat yakni, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT dan memperbaiki hubungan dengan makhluk. Ikhlas, dengan demikian akan mengantarkan individu kepada keadaan yang disebut Maslow dengan ‘pengalaman puncak”. Dalam keadaan pengalaman ini, individu tidak lagi memiliki intensi yang berfokus pada dirinya, akan tetapi justru lebih kepada orang lain. Ikhlas dalam maknanya sebagai sebuah pengalaman puncak adalah perilaku untuk mengubah orientasi dari sukses diri menjadi sukses bersama. Dengan demikian, ikhlas sangat menghargai kemashlahatan dan mengajarkan individu untuk tepat sekaligus bijaksana dalam mengelola perasaan.
D. Contoh Kasus
Ikhlas, seperti telah disebutkan sebelumnya, terkadang adalah sebuah sikap yang memerlukan pengorbanan. Bahkan, tak jarang ikhlas adalah sikap yang rabbani-insani. Oleh karena itu, studi kasus untuk mewakili fenomena ikhlas akan lebih tepat manakala diwakili oleh peristiwa-peristiwa yang memiliki semangat nubuwwah. Tentu, ini tidak bermakna bahwa fenomena ikhlas sulit kita temui. Akan tetapi, melalui studi psiko-historis dari perjalanan dan misi kenabian itu, kita akan lebih mudah dan total dalam memahami makna ikhlas.
Sosok yang akan diambil keteladanan pada makalah ini adalah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Sangat menarik memncermati keikhlasan keluarga ini. Ada tiga individu yang sama-sama memiliki karakter ikhlas. Sebut saja, Ibrahim, Hajar, dan Ismail. Tentu, mereka tak hanya telah berupaya untuk ikhlas, tetapi juga telah berupaya untuk bersabar, juga ridha terhadap perintah Tuhan. Bahkan, mereka telah mengelola perasaan dengan menempatkan ketaatan pada posisi yang lebih tinggi dari perasaan. Ikhlas, memang bukan kerja tunggal semata. Ikhlas dalam pelaksanaannya selalu terkait dengan perasaan sabar, dan ridha, serta tawakkal. Ikhlas, dalam konsep islam juga bermakna ujian. Ujian atas komitmen terhadap ikrar dan ketaatan, yang kadang sulit dilaksanakan.
Studi Psiko-historis tentang sikap ikhlas, dimulai dengan memahami bahwa Nabi Ibrahim telah sangat lama, menginginkan dikaruniai putra, dang penerus risalah nubuwwahnya. Sangat lama, Ibrahim menantikan kelahiran sang putra. Dalam kondisi yang demikian, sikap sabar dan ikhlas telah lama ‘bermain’ dan hadir di wilayah-wilayah perasaan, bahkan akal dan logika. Ikhlas, selalu mengarahkan Ibrahim untuk bersikap taat kepada Tuhan, tanpa merasa mengurangi ketaatan hanya karena keinginannya belum diijabahNya. Ini, terjadi sangat lama, hingga usia Nabi Ibrahim mulai sangat senja. Meskipun demikian, Nabi Ibrahim tetap taat, ikhlas mengabdi, meski keinginan dan hasrat yang menggebu belum ia dapatkan.
Pada episode berikutnya, Nabi Ibrahim dikaruniakan seorang putra, namanya Ismail. Anugerah Allah ini, sayangnya tak berhasil membentuk iklim kegembiraan pada dimensi perasaan secara lama. Pasalnya, belum sempat kerinduan Ibrahim akan Ismail terhapuskan, Allah telah memerintahkan Nabi Ibrahim dan Siti Hajar untuk berpisah ini perintah., Nabi Ibrahim masih seperti biasa, dan ia menjadi manusia paling ikhlas. Dialah salah satu makhluk terikhlas yang pernah tampil di muka bumi.
Sampai di titik inilah, pertimbangan manusiawi mengatakan bahwa hal itu seharusnya tidak dilakukan Ibrahim. Akan tetapi, Ibrahim tetap menjadi hambaNya yang taat. Ia tetap menjadi hambaNya yang ikhlas. Di padang Gersang, Ibrahim meningglkan istri dan Ismail yang masih lucu, di padang yang tanpa jaminan makanan, airminum, juga buah-buahan. Tetapi, di titik inilah ikhlas itu diuji. Ikhlas, dalam posisi ini mengajarkan hamba untuk menerima secara posirif keadaan sekritis apapun dan mengupayakkan perasaan positif itu muncul. Intense keluarga ‘ikhlas’ ini, hanya orientasi pada kerja-kerja amal dan taat kepadaNya. Sikap ini menghasilkan kepasrahan, ridha, dan semacam unconditional positive regards.
Ikhlas, memang tidak pernah selalu mudah, dan tidak selalu sulit. Ia memerlukan kompromi dengan logika sekaligus perasaan. Agar yang terasa berat menjadi terasa ringan. Hal berikutnya yang menguji ikhlas adalah, saat turun perintah untuk menyembelih Ismail. Bukan hal yang mudah, tapi ikhlas selalu bias berperan di saat logika pikiran dan hati tidak mau dijak berkompromi. Ada satu perangkat logika , yakni logika taat. Ia tidak memerlukan pertimbangan perasaan. Di sini, pengorbanan dan keihlasan diuji. Nabi Ibrahim, kemudian dinyatakan lulus dalam ujian ini. Sekali lagi, bukan hal yang ringan untuk dapat melepaskan bahkan menyembelih anaknya. Ikhlas, dalam hal apapun menyidakan ketaatan. Ini hamper sama dengan unconditional positive regards.
E. Analisis Kasus
Ikhlas, adalah perasaan positif yang dipayakan untuk hadir, agar setiap individu dapat kompromi terhadap lingkungan. Agat setiap individu dapat berkompromi terhadap segala tuntutan. Ikhlas dalam maknanya sebagai sebuah pengalaman puncak adalah perilaku untuk mengubah orientasi dari sukses diri menjadi sukses bersama. Dengan demikian, ikhlas sangat menghargai kemashlahatan dan mengajarkan individu untuk tepat sekaligus bijaksana dalam mengelola perasaan.
Dalam derivasinya, perasaan positif terhadap apa yang menimpa seseorang akan mengarahkan individu untuk memahami sesuatu secara objektif dan apa adanya. Oleh karena itu, perbuatan ikhlas akan memudahkan individu untuk dapat bertahan di masa-masa krisis dan sulit. Akan tetapi, dalam pengertian ini, ikhlas tidak berarti timbul begitu saja. Ikhlas dapat berangkat dari perasaan yang berat, dan ia mengalami semacam rasionalisasi atau pembiasaan serta perasaan positif yang dibangun sedkit demi sedikit. Dengan demikian, semakin memperjelas, bahwa iklhas bukanlah sikap pemberian dari Allah SWT.
Ikhlas, selalu mengarahkan Ibrahim untuk bersikap taat kepada Tuhan, tanpa merasa mengurangi ketaatan hanya karena keinginannya belum diijabahNya. Ini, terjadi sangat lama, hingga usia Nabi Ibrahim mulai sangat senja. Meskipun demikian, Nabi Ibrahim tetap taat, ikhlas mengabdi, meski keinginan dan hasrat yang menggebu belum ia dapatkan.
Kesimpulan dan Penutup
Makna assessment sangat luas, ia tidak berhenti pada taraf penyembuhan terhadap gangguan yang bersifat negative. Tetapi, ia melampaui dengan menawarkan strategi untuk memaksimalkan potensi positifnya menjadi pemantik kesuksesan di masa depan. Ikhlas, adalah salah satu sikap yang positif, dan bermakna penerimaan positif. Tentu, bukan berarti menerima apa adanya sebelum berupaya, karenanya konsep ini sangat menarik untuk diuraikan.
Perasaan positif, yang dihadirkan dari derivasi ikhlas inilah yang kemudian akan menimbulkan spirit untuk tetap mengupayakan sikap terbaik dalam hidup. Ikhlas, dalam bentuk apapun, selalu mampu memudahkan individu untuk meraih spiritualitas dan makna-makna hidup yang tidak linier dan statis. Psikologi islami, di wilayah memiliki wewenang yang cukup berwibawa untuk menjelaskan konsep ikhlas, karena bagaimanapun juga, konsep ini lahir dan berkembang dari konsep-konsep Islam. Bahkan dalan sejarah nubuwwah (kenabian) ikhlas adalah sesuatu yang urgen dan mendorong individu untukik dapat mengatasidan menerima kondisi sekritis apa pun.
Akhirnya, ikhlas adalah konsep yang positif dan sangat menarik untuk dikembangkan. Ikhlas, dalam hal apapun akan memanjang menjadi sebuah perasaan positif, dan merupakan cara bertahan menghadapi masalah secara profetis. Ikhlas, adalah potensi positif yang mesti dikembangkan oleh setiap individu, untuk mencapai kematangan (maturity) di samping perkembangan kepribadian yang optimal, di sisi yang lain. Konsep Ikhlas, dengan demikian, termasuk sebuah konsep yang cukup profetis. Artinya, ia berangkat dari nilai-nilai Rabbani yang juga diimbangi dengan insani.
Referensi
Al-Qur’an al karim dan Terjemahnya.
Alwisol. 2004. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press.
A. Fillah, Salim. 2005. Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim. Yogyakarta: Pro-U Media.
A. Fillah, Salim. 2008. Jalan Cinta Para Pejuang. Yogyakarta: Pro U Media.
Diana, Rachmy. Bahan Ajar Mata Kuliah Psikodiagnostik I. kalangan sendiri.
Fantastik, Fatan. 2007.Yes Ujianku Sukses! Yogyakarta: Pro-U Media.
Lathiffah, Nurul. Kedaulatanrakyat:Suaramahasiswa. Spirit Idul Adha. 26 November 2009.
Nashori, Fuad. 2005. Kiat-kiat MenjadiPenulis Muslim Kreatif. Yogyakarta: Qur’anic Media Pustaka.
Shihab, M. Quraish. 2008. Lentera Al-Qur’an; kisah dan hikmah dalam kehidupan. Jakarta: Mizan Media Utama.
Taniputera, Ivan. 2005. Psikologi Kepribadian. Yogyakarta: Ar Ruzz Media.
Rabu, 06 Januari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
mohon pendapat dan masukannya ya ;-)