doa dan titis airmata...mengaliri samudera...mencipta gelombang yang menetramkan, tidak mencemaskan...
mengisi kekosongan pengharapan...

Senin, 22 Februari 2010

psikolog; di ufuk tulus, ada penerimaan yang jernih dan menentramkan...

apa bedanya psikolog dengan dokter, saat keduanya diposisikan sebagai 'penyembuh'?
dokter, menyembuhkan dengan obat, dan urusan akan berakhir setelah menyerahkan resep...sedangkan psikolog, menerima kesah klien nya, secara positif tanpa syarat apa pun, psikolog, mendengarkan tidak hanya dengan pendengar saja, tapi ia mendengarkan dengan mata, dengan hati....ia tak hanya membaca dan mendengarkan yang dikatakan,,tapi ia mendengar kesah yang tak terkatakan, ia mendengar rintih dari lipatan kecil di sudut wajah; karena ini adalah pekerjaan hati..ia mendengarkan, mgkin akan melelahkan,,tapi tulus membuatnya lebih tegar,,tak ada maksud untuk membuatnya tergantung ;-) ia hanya ingin meringankan...dan membuat klien nya lebih kuat melalui masa-masa yang tak mudah,, ;-)

dugaan....

dugaan...untuk merencanakan langkah berikutnya...sangat penting....

Rabu, 17 Februari 2010

ada jeda di mana aku bergenti, cinta...

ada jeda di mana aku berhenti, cinta....ada saat di mana kita diizinkan,,,,ada saat saat di mana adalah pahala....karena takut kita padaNya....hanya saja, aku tetap akan mencintai cinta, dan menjaganya, sampai ia mendewasa, sampai ia berhenti di titik taat kita...

Senin, 15 Februari 2010

cinta///

cinta, di jernihmu yang tulus,,aku ingin berkaca, juga membersihkan luka,,,

Kamis, 21 Januari 2010

sungguh.....

sungguh,,aku hanya ingin mencintai cinta..tak lebih...mungkin bukan engkau...tapi dia,,cinta...yang tunduk di titik taat...

Rabu, 13 Januari 2010

kepemimpinan Rabbani

Kepemimpinan Rabbani
Oleh: Nurul Lathiffah*)
Mahasiswi Psikologi Fakultas Ilmu Sosial Humaniora UIN Suka Yogyakarta
Awal tahun 2009, ada aksioma klasik atau semacam ekspektasi kepada hal-hal urgen di sekitar kita. Salah satunya tentang kepemimpinan. Dalam hal apa pun, terlebih dalam konteks negara, kita selalu rindu kepemimpinan yang salih dan tidak dzalim. Kita rindu masyarakat iman, komunitas Rabbani yang mengedepankan kesalihan, sekaligus mewariskannya kepada generasi di bawahnya. Kita pun rindu, pemimpin yang memiliki kebijakan humanis, tapi tetap tegas dan memiliki wibawa yang kuat di masyarakat.
Islam,mengkonsepsikan kepemimpinan yang kita cita-citakan itu, dengan istilah yang kita sebut sebagai kepemimpinan Rabbani. Kepemimpinan ini, berangkat dari konsep-konsep nubuwwah, dan ketaladanan sahabat Nabi Muhammad SAW. Sebut saja Umar Ibn Khatab. Bahwa ia pemimpin yang tegas dan keras, tidak kita sangsikan. Tetapi, di bilah yang lain, Umar Ibn Khatab sangat lembut, bahkan ia mengambil kebijakan dengan sangat humanis, juga tolerantif.
Ia—Umar ibn Khatab—adalah pemimpin yang memberantas kedzaliman, tak hanya secara parsial. Umar tidak hanya mendengungkan ketidakadilan, tetapi ia bergerak, semaksimal yang ia bisa. Adakah pemimpin kita rela terjun ke masyarakat untuk mengetahui tingkat kesejahteraan secara objektif? Umar Ibn Khatab pada zamannya, bahkan rela mengejar unta zakat yang lepas. Pun meski demikian kuatnya Umar dalam mengemban amanah, ia tidak serta merta memperlakukan dan menuntut warganya menjadi malaikat. Kebijakan Umar memang tegas, bahkan keras. Tetapi, kebijakannya humanis, insani. Bahkan saat Abu Bakar, orang yang sangat lembut itu hendak memerangi muslim yang tidak mau berzakat, justru Umar Ibn Khatab bersikap lunak.
Rabbani, adalah sebuah konsep yang menarik. Rabbani sekaligus insani. Ada pedoman norma, tapi juga ada toleransi. Dalam Jami’ul Bayaan fii Ta’wilil Qur’aan, Al Imam Ibnu Jarir Ath Thabari menyebutkan ada lima hal yang menjadi ciri khas Rabbani. Pertama, orang yang Rabbani haruslah orang yang berilmu dan berwawasan ( ‘alim dan mutsaqqaf). Tentu, ini meliputi baik ilmu duniawi, maupun ilmu ukhrawi, ilmu umum, dan ilmu agama. Dua ilmu ini, saling berkelindan dalam mewujudkan sikap, atau perilaku yang Rabbani. Keduanya jika bersimbiosis, menghasilkan ilmu yang ilmiah dan amal yang amaliah.
Kedua, orang yang Rabbani harus faqih. Seorang yang faqih, mampu melihat apa yang ada di balik sesuatu, mendengarkan yang tak terucap, dan menilai secara holistik dan total. Seorang yang Faqih, mampu meyelesaikan persoalan dan menyelesaikannya tak hanya dengan teori, tapi telah diimbangi dengan pertimbangan konteks. Pribadi semacam ini, pun mengindikasikan adanya kematangan pribadi (ar- rusyd). Ketiga, seorang yang Rabbani memiliki kedalaman pandangan tentang politik ( al bashirah bis siyasah). sederhananya, ia memiliki seni membuat kebijakan yang menentramkan bagi semua.
Poin keempat, kepemimpinan Rabbani dicirikan oleh kemampuan manajemen dan memberdayakan sesuatu,secara tepat. Ia pandai memposisikan seseorang untuk menghasilkan performansi baik kerja dan ibadah secara maksimal. Terakhir, kepemimpinan Rabbani memiliki kepedulian pada kepentingan publik. Betapa, kita sadari, kita selalu merindukan diri kita menjadi insan Rabbani sekaligus dipimpin oleh pemimpin yang Rabbani. Pemimpin Rabbani, dapat secaa tegas menggaransi kesejahteraan yang dipimpin. Kini, di awal tahun ini kita berharap masing-masing kita adalah insan yang Rabbani. Dan akhirnya, mari berdoa, agar kita menjadi insan Rabbani, sekaligus dikaruniakan pemimpin yang Rabbani; pemimpin yang dicintaiNya dan dicintai rakyatnya. Amin.
jika adalah asa harus berhenti di titik taa, aku kan berhenti meski langkah masih begitu ingin menuju langit..jika adalah asa harus berpisah dengan harapan,,aku akan percaya,,jika ini ketetapanNya,,sungguh, Allah takkan pernah menyiakan hambaNya...

Selasa, 12 Januari 2010

..dan aku kini akan mencoba mencintai cinta..juga menjaga cinta..agar ia tetap seputih harapan Tuhan...aku ingin mencintai cinta...dan membangun sebuah istana, tapi kelak,,kini aku akan mengumpulkan batu batu kata juga menggali potensi hingga paling dalam,,agar pondasi cinta kelak kuat,,dan menguatkan..aku belum melanjutkan untuk membangun cinta...
menepikan gelisah...aku tak mau karam di lautan perasaan,,ombak ombak itu, sebagian aku ciptakan, sebagian diciptakannya, dan seluruhnya diarahkaNya...cinta adalah pelita...dan jika ia meluka,,maka kita harus bertanya; itukah cinta? cinta tak pernah meluka,,jika saja ia kita anggap pernah meluka, kita pantas bertanya,,, sudahkah mencintai cinta? kita merasa luka, karena kadang kita egois, menuntut hal-hal yang belum dipenuhinya...

Rabu, 06 Januari 2010

menata Ikhlas
:NurulLathiffah

Asesment, secara sederhana didefinisikan sebagai pemeriksaan kondisi seseorang secara keseluruhan, baik positif maupun negatifnya. Dalam definisi ini, makna assessment sangat luas, ia tidak berhenti pada taraf penyembuhan terhadap gangguan yang bersifat negative. Tetapi, ia melampaui dengan menawarkan strategi untuk memaksimalkan potensi positifnya menjadi pemantik kesuksesan di masa depan. Ikhlas, adalah salah satu sikap yang positif, dan bermakna penerimaan positif. Tentu, bukan berarti menerima apa adanya sebelum berupaya, karenanya konsep ini sangat menarik untuk diuraikan.
Ikhlas, dalam terminologi psikologi diistilahkan dengan penerimaan secara positif, yakni unconditional positive regards. Oleh karena itu, sangat menarik membahas tema ini. Ikhlas, adalah konsep islami, yang jauh lebih bermakna daripada pengaktifan defence mechanism semacam represi. Defence mechanism,mereaksi bahaya yang muncul dengan dua cara—versi Freudian—yakni, dengan membentengi impuls sehingga tidak dapat muncul menjadi tingkah laku sadar dan yang kedua, membelokkan impuls itu sehingga intensitas aslinya dapat dilemahkan atau diubah. Represi, dalam konteks Freudian disefinisikan sebagai proses ego memakai kekuatan untuk menekan segala sesuatu yangberupa hasrat tak sampai. Represi dapat membuat individu menekan perasaannya, namun, jika tidak mampu ditekan, dan telah,mencapai ambang batas, represi menjadi semacam sebab timbulnya perilaku pelampiasan.
Sampai di titik inilah,kita percaya bahwa mekanisme pertahanan—dalam hal ini—represi, kurang andal dan miskin nilai makna untuk digunakan secara fleksibel menghadapi krisis pada tahap kehidupan dan masa-masa transisi lainnya. Barangkat dari alur inilah, konsep ikhlas menjadi hal yang cukup menarik untuk diungkap dan dipahami sebagai sebuah potensi kebaikan. Pasalnya, ikhlas menawarkan totalitas menerima sesuatu secara utuh, berdamai dengan masa lalu, dan tanpa risiko menahan hasrat terpendam. Ikhlas, dalam konsep psikologi Islam adalah mekanisme pertahanan yang cukup kuat dan efektif. Bahkan, ia lebih dari sekedar mekanisme pertahanan. Ikhlas, adalah afeksi positif yang harus dikembangkan dan disertakan dalam sikap hidup agar menimbulkan perasaan positif..
Perasaan positif, yang dihadirkan dari derivasi ikhlas inilah yang kemudian akan menimbulkan spirit untuk tetap mengupayakan sikap terbaik dalam hidup. Ikhlas, dalam bentuk apapun, selalu mampu memudahkan individu untuk meraih spiritualitas dan makna-makna hidup yang tidak linier dan statis. Psikologi islami, di wilayah memiliki wewenang yang cukup berwibawa untuk menjelaskan konsep ikhlas, karena bagaimanapun juga, konsep ini lahir dan berkembang dari konsep-konsep Islam. Bahkan dalan sejarah nubuwwah (kenabian) ikhlas adalah sesuatu yang urgen dan mendorong individu untukik dapat mengatasidan menerima kondisi sekritis apa pun.
Konsep Ikhlas, dengan demikian, termasuk sebuah konsep yang cukup profetis. Artinya, ia berangkat dari nilai-nilai Rabbani yang juga diimbangi dengan insani. Ini adalah sebuah kajian yang menarik. Makalah ini, berupaya menguraikan konsep ikhlas sebagai sebuah assessment psikologi menurut pandangan Islam, dengan komparasi teori barat agar menghasilkan pandangan yang lebih proporsional. Pada muaranya, ini akan menghasilkan pandangan yang positif tentang ikhlas, dan manfaatnya dalam melejitkan potensi-potensi yang ada pada diri individu, dalam keadaan sekrisis apa saja. Ini, adalah starting point untuk meningkatkan kualitas hidup dan kehidupan,masing-masing individu.



PEMBAHASAN
A. Definisi Operasional

Definisi ikhlas, akan dimulai dengan definisi yang diambil dari Al-Qur’an. Al-Qur’an, mendefinsikan ikhlas, dengan semacam perumpamaan yang cukup representative untuk memahami definisi ikhlas.
“…Di antara kotoran dan darah, ada susu yang khalis—ikhlas, murni—mudah ditelan bagi peneguknya…” (QS. An Nahl: 66)
Dari definsi inilah, ikhlas berarti melakukan sesuatu dengan murni, memfokuskan niat hanya padaNya. Dalam terminologi psikologi sosial, perilaku ini dekat maknanya dengan perilaku altruis. Secara lebih luas lagi, ikhlas juga mengandung makna muraqabah (pengawasan). Ikhlas, tidak mengandung riya’, dan niat selalu dijaga untu tidak bergeser. Niat dalam apapun, baik dalam menerima keadaan, bahkan dalam melakukan kebaikan dan upaya perbaikan.
Muraqabah, identik dengan ihsan. Muraqabah, dikonsepsikan oleh Rasulullah SAW dalam fragmen hadisnya, “ Engkau ibadahi Allah seakan-akan engkau melihatNya, jika Engkau tak melihatnya, yakinlah..Ia melihatmu”. Secara lebih lengkap, Al-Qur’an juga member keteladanan tentang ikhlas. Berikut adalah tentang keikhlasan Ali Raddhiyallahu ‘Anhu yang diabadikan dalam Al-Qur’an,
“ Orang-orang yang menginfakkan hartanya pada malam hari dan pada siang hari,secara sembunyi-sembunyi dan secara terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Rabbnya. Tiada kekhawatiran atas mereka, dan tidaklah pula mereka bersedih hati” (Al-Baqarah: 274).
Ikhlas, dengan demikian tidak sama dengan menghindari dari pengawasan orang lain. Ikhlas, muncul secara internal, dari dalam hati. Ia berarti menerima dengan penuh, atau melakukan hal-hal secara altruistik. Selanjutnya, ikhlas adalah perbuatan yang selalu kompromis dengan keadaan apapun. Ikhlas, selalu ada meski dalam keadaan senang, duka, gelisah, juga yakin. Ikhlas, dalam keadaan apa pun akan membuta seseorang mampu melakukan hal-hal dengan tulus.
Dengan demikian, al-Qur’an mengonsepsikan ikhlas secara sangat detail. Ikhlas, dalam bentuk apapun adalah pemantik untuk selalu bergerak. Hal ini, diyakinkan dengan perintah Allah untuk ikhlas. Ikhlas mengajarkan untuk tetap bergerak.
“ Berangkatlah baik dalam keadaan merasa ringan atau merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. ( Qs At-Taubah: 41).
Ikhlas, dengan demikian bisa diupayakan. Hal ini dalam psikologi Barat dijelaskan dengan baik oleh James Lange. Ia merumuskan, bahwa emosi dapat diciptakan melalui gerak fisik. Selanjutnya, perasaan akan mengikuti. James Lange, secara konkrti mencontohkan bahwa individu yang menangis akan menjadi sedih. Dengan demikian, perasaan dapat diuapayakan, sejalan dengan gerak fisik seseorang. Ini berarti bahwa, sikap ikhlas itu dapat diupayakan dan diciptakan, meski awalnya berawal dari sesuatu yang berat bahkan dipaksakan. Teori james Lange yang cukup sederhana telah mampu menjelaskannya.
Meskipun demikian, keikhlasan seorang muslim sebaiknya diwujudkan dalam niat. Niat melakukan apa saja, seperti firman Allah SWT,
“ Hadapkanlah wajahmu di setiap shalat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepadaNya” ( Qs Al A’raf; 29).
Dalam hal keikhlasan niat, ia adalah starting point utnuk dapat berpikiran positive dan mempercayakan segala takdir atas upaya-upaya yang telah dilakukan makhluk pada Allah SWT. Keikhlasan, juga berarti menjaga dari perusak keikhlasan seperti pamer, sombong, ambisius, dan sebagainya. Dengan demikian, beberapa item di atas dapat menjadi indikator orang-orang yang ikhlas.
B. Aspek-aspek yang Akan Diukur
Dari beberapa definisi operasional di atas, indikator perilaku ikhlas dapat dirumuskan sebagaimana Al-Qur’an telah mendefinisikannya, yakni perilaku ikhlas ditandai oleh;
1. Niat atau intensi untuk melakukan segala hal, hanya untuk meraih ridha Allah SWT.
Ini merupakan perpanjangan dari pemahaman bahwa ikhlas adalah pengabdian murni. Ia adalah bagian dari tindakan altruistik. Bedanya, iklhas mempercayai hal-hal esoteric seperti rewards dari Allah, yakni pahala bagi orang-orang yang berperilaku ikhlas. Dalam bahasa nubuwwah, ikhlas dalam hal niat diterangkan dalam hadist,
“ Sesungguhnya setiap amal itu beserta niatannya, dan bagi setiap orang apa yang diniatkannya. Maka siapa yang berhijrah kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itu menuju Allah dan RasulNya. Dan siapa yang hijrahnya untuk dunia yang ingin didapatkannya atau untuk wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu menuju kepada apa yang ditujunya.”
(HR. Bukhari Muslim).
Dalam parameter ini, ikhlas juga diharuskan murni. Ia murni dari segala niat selain hanya padaNya. Ini, secara alami akan mengantarkan pada sebuah kondisi di mana ihsan, pengawasan (muraqabah) dan ketaqwaan yang hakiki. Ikhlas, harus terjaga dari tendensi-tendensi yang merusak niat.
2. Ikhlas adalah pengabdian murni yang membuat individu mampu memiliki perasaan positif terhadap apa yang ia lakukan
Dalam hal ini, ikhlas adalah proses mengupayakan perasaan, dan proses mengupayakan penerimaan. Dalam psikologi barat, ia sangat mirip dengan konsep unconditional positive regards. Pasalnya, pada individu yang mencoba ikhlas, ia akan mengupayakan penerimaan poisitif tanpa syarat, dan karena perasaan positif ini berkembang maka individu akan memandang segala sesuatu secara lebih kreatif. Penerimaan positif tanpa syarat ini, dalam paradigma humanistic adalah prasyarat untuk menyembuhkan stress dan depresi.

Dalam derivasinya, perasaan positif terhadap apa yang menimpa seseorang akan mengarahkan individu untuk memahami sesuatu secara objektif dan apa adanya. Oleh karena itu, perbuatan ikhlas akan memudahkan individu untuk dapat bertahan di masa-masa krisis dan sulit. Akan tetapi, dalam pengertian ini, ikhlas tidak berarti timbul begitu saja. Ikhlas dapat berangkat dari perasaan yang berat, dan ia mengalami semacam rasionalisasi atau pembiasaan serta perasaan positif yang dibangun sedkit demi sedikit. Dengan demikian, semakin memperjelas, bahwa iklhas bukanlah sikap pemberian dari Allah SWT. Tetapi, ikhlas dapat diupayakan, meski awalnya ia berangka dari ketidakrelaan. Di titik inilah, ikhlas menjadi hal yang sangat menarik untuk dibicarakan.
Dalam istilah islami, poin dapat diwakili oleh konsep ridha. Perasaan ini adalah hal yang bersifat afeksional, menerima dengan sepenuh hati, kadang dilakukan dengan logika akal maupun logika hati. Secara positif, logika hati berarti logika yang merupakan hasil bimbungan Allah, bersifat intuitif, dan termanifestasi dalam bentuk hidayah dan firasat. Logika ini, kadang bersifat irasional dan lebih mengedepankan perasaan. Berbeda dengan logika akal, pemahaman yang berdasarkan pemahamn ini kan mengakibatkan seseorang untuk berfikir secara rasional, sistematis, dam logis.
Apa makna semua ini? Ikhlas, dapat diupayakn dengan jalur memahami persoalan secara akal maupun hati (perasaan). Sehingga, terkadang ikhlas tetap dapat muncul dalam keadaan yang seolah tidak mungkin sekalipun. Di sini, ikhlas adalah hasil pengelolaan perasaan yang terproses secara bijaksana dan dengan pertimbangan yang matang. Ridha, mengarahkan individu untuk dapat menerima sesuatu secara objektif dan jujur, berkompromi dengan perasaan, dan kemudian dilanjutkan dengan sikap memperbaiki keadaan.
3. Ikhlas berarti menaklukan perasaan egois, dan membangun kepercayaan padaNya bahwa segala sesuatu memiliki ibrah yang tersuratdan tersirat.
Ikhlas, sejak awal dipahami sebagai kerja akal dan hati. Ikhlas adalah upaya menaklukan dan mengelola perasaan-perasaan tidak nyaman yang berpotensi mengakibatkan depresi. Ikhlas dalam hal ini juga bermakna menyandarkan semua padaNya, dengan cara mempercayakan adanya hikmah-hikmah dalam kondisi pling sulit yang telah iaterima dan hadapi. Dengan demikian, orang yang ikhlas akan menempatkan perasaan secara adil. Ia tidak larut dalam perasaan ego dan need, atau bahkan insting yang memiliki tingkatan kebutuhan paling dasar dari makhluk Tuhan bernama manusia.
Akan tetapi, ikhlas adalah proses mengelola perasaan dan menciptakan perasaan positif. Ini berbeda dengan menafikan keinginan. Konsep ini juga tidak berarti bahwa manusia nir tujuan. Akan tetapi, ia mengaksentuasikan bahwa perasaan, hasrat, dan egoism manusia akan dikelola secara positif, dalam perilaku-perilaku ikhlas karena motivasi mendapat pahala dari Allah SWt sekaligus mendapatkan perasaan poisitf yang membuat individu semakin mampu menghargai dirinya sendiri.
Tiga entitas ini, secara sederhana telah mampu menjadi indikator dari sikap ikhlas. Tentu, ini diambil dari definisi operasional yang telah dituliskan pada bagian yang lebih awal.
C. Manfaat Ikhlas
Ikhlas dalam bahasa Al-Qur’an, tak hanya bermanfaat bagi pelakunya, tetapi juga bagi orang lain, atau subjek yang dikenai. Ia akan menimbulkan perasaan positif dan perasaan nyaman. Ikhlas, juga merupakan sikap posotof untuk mengatasi krisis sesulit apa pun. Ini sejalan dengan konsep penerimaan tanpa syarat yang ada dalam entri kata; ikhlas. Dalam psikologi humanistic, ikhlas menjadi kata kunci untuk dapat sembubdan terhindar dari gejala stress atau depresi. Apa pasal? Karena ikhlas juga bermakna toleransi. Kadar toleransi yang tinggi baik terhadap orang lain ataupun keadaan-keadaan yang tidak disukai juga akan menimbulkan perilaku adaptasi yang efektif, yang merupakan cirri dari tercapainya tingkat kesehatan mental yang baik.
Berikutnya, ikhlas membuat seseorang yang melakukan pekerjaan dengan hati berat menjadi ringan. Individu dengan sikap ikhlas akan lebih dapat melaskanakan tugas dengan lebih optimal karena ia selalu mengupayakan perasaan poisitf dan mengabaikan harapan-harapan yang akan merusak perilaku altruistiknya. Ikhlas juga merupakan awal yang baik untuk menciptakan perilaku yang lebih tulus dan humanis.
Dalam perspektif islam, ikhlas memiliki dua manfaat yakni, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT dan memperbaiki hubungan dengan makhluk. Ikhlas, dengan demikian akan mengantarkan individu kepada keadaan yang disebut Maslow dengan ‘pengalaman puncak”. Dalam keadaan pengalaman ini, individu tidak lagi memiliki intensi yang berfokus pada dirinya, akan tetapi justru lebih kepada orang lain. Ikhlas dalam maknanya sebagai sebuah pengalaman puncak adalah perilaku untuk mengubah orientasi dari sukses diri menjadi sukses bersama. Dengan demikian, ikhlas sangat menghargai kemashlahatan dan mengajarkan individu untuk tepat sekaligus bijaksana dalam mengelola perasaan.
D. Contoh Kasus
Ikhlas, seperti telah disebutkan sebelumnya, terkadang adalah sebuah sikap yang memerlukan pengorbanan. Bahkan, tak jarang ikhlas adalah sikap yang rabbani-insani. Oleh karena itu, studi kasus untuk mewakili fenomena ikhlas akan lebih tepat manakala diwakili oleh peristiwa-peristiwa yang memiliki semangat nubuwwah. Tentu, ini tidak bermakna bahwa fenomena ikhlas sulit kita temui. Akan tetapi, melalui studi psiko-historis dari perjalanan dan misi kenabian itu, kita akan lebih mudah dan total dalam memahami makna ikhlas.
Sosok yang akan diambil keteladanan pada makalah ini adalah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Sangat menarik memncermati keikhlasan keluarga ini. Ada tiga individu yang sama-sama memiliki karakter ikhlas. Sebut saja, Ibrahim, Hajar, dan Ismail. Tentu, mereka tak hanya telah berupaya untuk ikhlas, tetapi juga telah berupaya untuk bersabar, juga ridha terhadap perintah Tuhan. Bahkan, mereka telah mengelola perasaan dengan menempatkan ketaatan pada posisi yang lebih tinggi dari perasaan. Ikhlas, memang bukan kerja tunggal semata. Ikhlas dalam pelaksanaannya selalu terkait dengan perasaan sabar, dan ridha, serta tawakkal. Ikhlas, dalam konsep islam juga bermakna ujian. Ujian atas komitmen terhadap ikrar dan ketaatan, yang kadang sulit dilaksanakan.
Studi Psiko-historis tentang sikap ikhlas, dimulai dengan memahami bahwa Nabi Ibrahim telah sangat lama, menginginkan dikaruniai putra, dang penerus risalah nubuwwahnya. Sangat lama, Ibrahim menantikan kelahiran sang putra. Dalam kondisi yang demikian, sikap sabar dan ikhlas telah lama ‘bermain’ dan hadir di wilayah-wilayah perasaan, bahkan akal dan logika. Ikhlas, selalu mengarahkan Ibrahim untuk bersikap taat kepada Tuhan, tanpa merasa mengurangi ketaatan hanya karena keinginannya belum diijabahNya. Ini, terjadi sangat lama, hingga usia Nabi Ibrahim mulai sangat senja. Meskipun demikian, Nabi Ibrahim tetap taat, ikhlas mengabdi, meski keinginan dan hasrat yang menggebu belum ia dapatkan.
Pada episode berikutnya, Nabi Ibrahim dikaruniakan seorang putra, namanya Ismail. Anugerah Allah ini, sayangnya tak berhasil membentuk iklim kegembiraan pada dimensi perasaan secara lama. Pasalnya, belum sempat kerinduan Ibrahim akan Ismail terhapuskan, Allah telah memerintahkan Nabi Ibrahim dan Siti Hajar untuk berpisah ini perintah., Nabi Ibrahim masih seperti biasa, dan ia menjadi manusia paling ikhlas. Dialah salah satu makhluk terikhlas yang pernah tampil di muka bumi.
Sampai di titik inilah, pertimbangan manusiawi mengatakan bahwa hal itu seharusnya tidak dilakukan Ibrahim. Akan tetapi, Ibrahim tetap menjadi hambaNya yang taat. Ia tetap menjadi hambaNya yang ikhlas. Di padang Gersang, Ibrahim meningglkan istri dan Ismail yang masih lucu, di padang yang tanpa jaminan makanan, airminum, juga buah-buahan. Tetapi, di titik inilah ikhlas itu diuji. Ikhlas, dalam posisi ini mengajarkan hamba untuk menerima secara posirif keadaan sekritis apapun dan mengupayakkan perasaan positif itu muncul. Intense keluarga ‘ikhlas’ ini, hanya orientasi pada kerja-kerja amal dan taat kepadaNya. Sikap ini menghasilkan kepasrahan, ridha, dan semacam unconditional positive regards.
Ikhlas, memang tidak pernah selalu mudah, dan tidak selalu sulit. Ia memerlukan kompromi dengan logika sekaligus perasaan. Agar yang terasa berat menjadi terasa ringan. Hal berikutnya yang menguji ikhlas adalah, saat turun perintah untuk menyembelih Ismail. Bukan hal yang mudah, tapi ikhlas selalu bias berperan di saat logika pikiran dan hati tidak mau dijak berkompromi. Ada satu perangkat logika , yakni logika taat. Ia tidak memerlukan pertimbangan perasaan. Di sini, pengorbanan dan keihlasan diuji. Nabi Ibrahim, kemudian dinyatakan lulus dalam ujian ini. Sekali lagi, bukan hal yang ringan untuk dapat melepaskan bahkan menyembelih anaknya. Ikhlas, dalam hal apapun menyidakan ketaatan. Ini hamper sama dengan unconditional positive regards.
E. Analisis Kasus
Ikhlas, adalah perasaan positif yang dipayakan untuk hadir, agar setiap individu dapat kompromi terhadap lingkungan. Agat setiap individu dapat berkompromi terhadap segala tuntutan. Ikhlas dalam maknanya sebagai sebuah pengalaman puncak adalah perilaku untuk mengubah orientasi dari sukses diri menjadi sukses bersama. Dengan demikian, ikhlas sangat menghargai kemashlahatan dan mengajarkan individu untuk tepat sekaligus bijaksana dalam mengelola perasaan.
Dalam derivasinya, perasaan positif terhadap apa yang menimpa seseorang akan mengarahkan individu untuk memahami sesuatu secara objektif dan apa adanya. Oleh karena itu, perbuatan ikhlas akan memudahkan individu untuk dapat bertahan di masa-masa krisis dan sulit. Akan tetapi, dalam pengertian ini, ikhlas tidak berarti timbul begitu saja. Ikhlas dapat berangkat dari perasaan yang berat, dan ia mengalami semacam rasionalisasi atau pembiasaan serta perasaan positif yang dibangun sedkit demi sedikit. Dengan demikian, semakin memperjelas, bahwa iklhas bukanlah sikap pemberian dari Allah SWT.
Ikhlas, selalu mengarahkan Ibrahim untuk bersikap taat kepada Tuhan, tanpa merasa mengurangi ketaatan hanya karena keinginannya belum diijabahNya. Ini, terjadi sangat lama, hingga usia Nabi Ibrahim mulai sangat senja. Meskipun demikian, Nabi Ibrahim tetap taat, ikhlas mengabdi, meski keinginan dan hasrat yang menggebu belum ia dapatkan.

Kesimpulan dan Penutup
Makna assessment sangat luas, ia tidak berhenti pada taraf penyembuhan terhadap gangguan yang bersifat negative. Tetapi, ia melampaui dengan menawarkan strategi untuk memaksimalkan potensi positifnya menjadi pemantik kesuksesan di masa depan. Ikhlas, adalah salah satu sikap yang positif, dan bermakna penerimaan positif. Tentu, bukan berarti menerima apa adanya sebelum berupaya, karenanya konsep ini sangat menarik untuk diuraikan.
Perasaan positif, yang dihadirkan dari derivasi ikhlas inilah yang kemudian akan menimbulkan spirit untuk tetap mengupayakan sikap terbaik dalam hidup. Ikhlas, dalam bentuk apapun, selalu mampu memudahkan individu untuk meraih spiritualitas dan makna-makna hidup yang tidak linier dan statis. Psikologi islami, di wilayah memiliki wewenang yang cukup berwibawa untuk menjelaskan konsep ikhlas, karena bagaimanapun juga, konsep ini lahir dan berkembang dari konsep-konsep Islam. Bahkan dalan sejarah nubuwwah (kenabian) ikhlas adalah sesuatu yang urgen dan mendorong individu untukik dapat mengatasidan menerima kondisi sekritis apa pun.
Akhirnya, ikhlas adalah konsep yang positif dan sangat menarik untuk dikembangkan. Ikhlas, dalam hal apapun akan memanjang menjadi sebuah perasaan positif, dan merupakan cara bertahan menghadapi masalah secara profetis. Ikhlas, adalah potensi positif yang mesti dikembangkan oleh setiap individu, untuk mencapai kematangan (maturity) di samping perkembangan kepribadian yang optimal, di sisi yang lain. Konsep Ikhlas, dengan demikian, termasuk sebuah konsep yang cukup profetis. Artinya, ia berangkat dari nilai-nilai Rabbani yang juga diimbangi dengan insani.

Referensi


Al-Qur’an al karim dan Terjemahnya.
Alwisol. 2004. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press.
A. Fillah, Salim. 2005. Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim. Yogyakarta: Pro-U Media.
A. Fillah, Salim. 2008. Jalan Cinta Para Pejuang. Yogyakarta: Pro U Media.
Diana, Rachmy. Bahan Ajar Mata Kuliah Psikodiagnostik I. kalangan sendiri.
Fantastik, Fatan. 2007.Yes Ujianku Sukses! Yogyakarta: Pro-U Media.
Lathiffah, Nurul. Kedaulatanrakyat:Suaramahasiswa. Spirit Idul Adha. 26 November 2009.
Nashori, Fuad. 2005. Kiat-kiat MenjadiPenulis Muslim Kreatif. Yogyakarta: Qur’anic Media Pustaka.
Shihab, M. Quraish. 2008. Lentera Al-Qur’an; kisah dan hikmah dalam kehidupan. Jakarta: Mizan Media Utama.
Taniputera, Ivan. 2005. Psikologi Kepribadian. Yogyakarta: Ar Ruzz Media.

catatan buat pahlawan

Wacana Gelar Pahlawan Nasional?
Oleh: Nurul Lathiffah*)
Kedaulatan Rakyat, Suara Mahasiswa 7 Januari 2009
Rakyat Indonesia merasa kehilangan, dengan wafatnya ulama sekaligus guru besar bangsa. Gus Dur, Bapak Pluralisme itu menyisakan sebuah emosi kehilangan bagi banyak kalangan. Beliau, adalah sosok yang kontroversial. Pemikiran, kebijakan, dan berbagai ide-idenya bahkan kadang dinilai frontal oleh beberapa kalangan yang beroposisi dengan beliau, dalam wilayah pemikiran. Meskipun demikian, sosoknya sebagai seorang yang sangat tolerantif adalah sebuah fenomena. Selama tahun-tahun pemerintahannya, kita tentu pernah menyimak betapa beliau mencoba memperjuangkan hak-hak kaum minoritas. Salah satu contohnya adalah mengakui keberadaan agama konghucu sebagai sebuah sistem kepercayaan.
Di luar itu, banyak proyek budaya yang coba beliau angkat, di samping proyek-proyek keagamaan lainnya.Sepeninggal Gus Dur, media secara intens melakukan shoot secara fantastis. Bagi sejumlah kalangan, Gus Dur dikenal baik justru setelah beliau meninggal, melalui perantara media massa yang gencar menyebutkan ‘perjuangannya’. Tentu, ini merupakan tindakan yang wajar yang mencirikan iklim kehidupan pers yang penuh dinamika. Dalam hal ini, secara alami pers telah berjasa dalam pelakukan pencitraan positif terhadap presiden ke 4 RI ini.
Dalam rasa duka dan kehilanga mendalam serta emosi-emosi akibat perasaan kehilangan, muncul wacana untuk menjadikan Gus Dur sebagai pahlawan nasional. Kita, secara asadar diarahka untuk menyetujuinya karena kekuatan media massa memperkenalkan sosok Gus Dur telah menyisakan kesan yang mendalam. Ini adalah wacana, yang jika mendapat dukungan akan dapat dijadikan sebagai refernsi pengambilan keputusan. Tentu, karena asas demokrasi pancasila bahkan musyawarah mufakat juga mengakui adanya legitimasi dari suara mayoritas.
Sekali lagi, kita tentu tidak pernah menyangsikan bahwa Gus Dur, telah memiliki jasa besar dalam mendewasakan bangsa ini, dengan sejumlah pemikiran kritis dan tolerantifnya. Kehadirannya di wilayah pegelolaan publik juga telah mewarnai dan membuat citra islam dan Indonesia menjadi lebih halus dan berbudaya asertif. Akan tetapi, pengambilan keputusan harus dilakukan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang rasional dan fair, tidak hanya memperturutkan emosi dan perasaan kehilangan yang dicitrakan dan dirasakan secara massal.
Menetapkan tokoh sebagai pahlawan nasional, tentu berdasarkan atas objektivitas. Ada kriteria-kriteria tertentu yang semestinya ditetapkan dan ditaati. Jangan sampai, sikap kita yang masih “emosional” ini akan menyakiti tokoh lain yang notabene telah melakukan hal yang sekualitas Gus Dur. Menetapkan keputusan, juga harus diimbangi dengan pertimbangan yang dewasa. Barangkali, jika Gus Dur disepakati untuk menjadi pahlawan nasional, kita perlu merunut ke belakang dan ke samping. Adakah ‘pahlawan’ lain yang sempat terabaikan hanya karena publik tidak atau belum ‘fantastis’ mengeksposnya.
Akhirnya, kita kini dituntut untuk lebih proporsional. Apapun gelar yang akan didapatkan Gus Dur, beliau tetap guru bangsa yang kita hargai dan kita apresiasi sikap-sikapnya. Satu hal yang jauh lebih penting dari sekedar gelar adalah, sudahkah kita mencoba mewarisi nilai-nilai positifnya? Karena eksistensi pahlawan, juga ditentukan oleh eksistensi pemikiran yang diwariskan kepada generasi sesudahnya. Wallahu’alam.
*)Penulis, Mahasiswi Psikologi UIN Suka Yogyakarta
getar asa di langit taat....karena sedang ada transaksi masalah perasaan denganNya...dan terimaksih cinta...
engkau membimbingku untuk mencintai cinta...dan tak ada luka....tak ada garis merah,,,semua adalah pelita, tempatku berguru pada kehidupan,,,
terimakasih cinta,,
kau tak pernah bercerita tentang kesia-siaan. semua tentang pengorbanan, semua tentang ketulusan, terimaksih, cinta....

puisi puisi yang mendekati puisi

Nurul Lathiffah

Euforia

di matamu aku melipat daun. Menghisap udara basah
sissa hujan dalam kilau gerimis. di celah air,
aku menghitung jarak antara takut dan cinta
biar Tuhan mengisinya dengan keridhaan

di hening katakata yang kau sembunyikan
diam-diam saat aku gerimis airmata
kutemukan serpihan yang hancur du garis masa
melalui sedeikit kerut di wajahmu. Dan air menurunkan sesuatu

Yogyakarta, November 2008

Surat I

aku tahu. kau sandarkan katakat
yang padasaat gerimis, pernah kau halau jauh-jauh
karena itu menggarami luka yang pernah berdarah
oleh kilau airmata dalam sebuah senja

aku tahu. surat tak mesti ada huruf yang mati
di atas kanvas putih
suratmu,
selalu dibahasakan dengan gerak langkah yang menjauh
dengan tiap lembar wajah yang menunduk
dengan sinar mata yang meredup

sudah kuterima suratmu
tak mungkin ambigu
aku tahu.

Yogyakarta, November 2008

Rintik Kata

Bismillah. Tuhan, rintikkan katakata jadi hujan
yang membesahi cuaca di sepenjang garis tangan
: seorang perempuan
yang Kau kirimkan bersama kuntum-kuntum syahadah

Bismillah. Tuhan, rintikkan katakatku
jadi ombak yang jatuh dan aku adalah sampan
: aku ingin berlabuh
keluh, aku titipkan sauh.
Tuhan. cukup jaga ia dengan rintik cuaca yang basah
yang menumbuhkan segala, senantiasa

Yogyakarta, November 2008
( yang) Baru Reda

dalam geliat airmata. ada darah yang disimpan
dan ia jauh dari merah
demi
: (yang) baru reda
kucoba merekatkan katakata dengan airmata
membuka masa-masa yang dilembari episode
angina utara dan wangi ilalang
karena ada
(yang ) baru reda. jangan coba-coba
menelusupkan airmata, apalagi narasi yang panjang

Yogyakarta, November 2008

Surat II

satu-satu. kusalin huruf demi huruf ke dalam
altar yang hendak ku selubung rapat
dalam kesangsian yang panjang
: batas utara dan selatan

satusatu. kubersihkan lagi suratmu//
//menjadi seputuih harapan Tuhan atas ku
karena betapapun kata itu
menyihir tawa jadi tangis
ia rapuh. aku tahu. kita paling tak jujur
pada puisi


Yogyakarta, November 2008

Nurul Lathiffah, Lahir di Kulon Progo, 21 September 1989. Selepa SMA melanjutkan studi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada FakultasIlmu social dan Humaniora, Program studi Psikologi. Menulis puisi dan Cerpen. Tulisannya pernah di muat di majalah Sabili, Horison, Buletin Lontar.

bismillah,,catatan kecil

Jumat, 06 November 2009
”Apreciative Inquiry”, Euforia atau Apresiasi?
Oleh: NURUL LATHIFFAH
DEWASA ini, pandangan optimistis tentang manusia semakin berkembang. Ini kita rasakan karena pandangan itu telah menjadi tren tersendiri dalam ranah pendidikan. Tak bisa dimungkiri, ini adalah derivat konseptual psikologi humanistis yang terus berusaha mencari bentuk ideal agar manusia dapat memaksimalkan potensi dirinya. Pada gilirannya, kita kini mulai sadar bahwa konsep yang berakar dari pendangan humanistis membuat dunia pendidikan kita mulai kreatif mencari alternatif-alternatif dan solusi atas frustrasi masif yang dihadapi.

Dalam ranah pendidikan, kini pun kita dihadapkan dengan tren kreatif. Sekolah-sekolah anak berkebutuhan khusus hadir untuk menenteramkan kegelisahan masyarakat dengan konsepnya yang humanis dan membuat kita terpesona bahwa dalam diri manusia selalu ada sisi-sisi positif yang bisa diberdayakan. Artinya, ketika ada satu entitas di mana individu lemah dan bahkan mengalami disfungsi dalam suatu hal, maka kita akan membantunya melakukan upaya kompensasi. Jika kecerdasan intelektualnya memiliki kapasitas sedang, konsekuensinya kita akan mengoptimalkan kecerdasan yang bisa dipelajari, bukan hanya kecerdasan yang "terberi".

Sebenarnya ide ini bukanlah hal yang baru dan asing. Jauh sebelum ini, kita telah diperkenalkan dengan kecerdasan emosi yang membuat kita tersadar bahwa manusia bukanlah makhluk yang mekanistis. Intelegensi bawaan dan kapasitas intelektual nyatanya memang bukan sebuah hal yang menjamin sukses seseorang. Sampai di sini kita paham, bahwa pandangan optimistis terhadap manusia telah melahirkan beragam kecerdsan yang membuat manusia semakin peka menggali potensi dirinya. Salah satu produk pandangan optimistis itu kini bermetamorfosis, menjadi AI atau apreciative inquiry.

Lalu kini pertanyaannya, apa yang membedakan kecerdasan AI dengan pandangan-pandangan humanis yang pernah kita terima dulu? Atau jangan-jangan ia bukan hal yang baru? AI adalah suatu seni dan praktik bertanya yang memperkuat kapasitas manusia dan sistem manusia untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Ia adalah sebuah metode yang menyadarkan manusia bahwa dalam diri manusia selalu ada sisi positif yang bisa diberdayakan, sebagai kompensasi atas minimnya keterampilan manusia dalam beberapa hal.

Ciri yang menonjol dalam AI adalah asumsi yang dibangunnya, bahwa kehidupan adalah misteri. Jika dulu dalam setiap rumusan solusi kita selalu berusaha menentukan problem solving, maka dalam AI, itu dianggap tidak penting. Dalam problem solving, mau tidak mau kita harus menganalisis dan berfokus pada analisis penyebab; suatu hal yang kita anggap menguras energi yang cukup banyak. Sedangkan, AI hanya berfokus pada upaya memberdayakan sesuatu yang mungkin. Ini sekaligus mengarahkan kita agar berfokus pada potensi diri daripada berfokus pada permasalahan dan problema yang dialami.

Konsep AI memang lebih optimistis. Dan karenanya, kita mudah terpesona. Bahkan dengan kehadirannya, kita telah mengalami semacam euforia bahwa setiap manusia memiliki potensi yang sama untuk menonjol dalam beberapa hal. Pun demikian, kita harus tersadar dan tetap menjadi makhluk yang realistis. Bahwasanya, mengapresiasi AI tidak sama dengan percaya sepenuhnya akan konsep yang ditawarkan. Ada hal-hal yang harus kita kritisi. Bahwa, meskipun AI mengajarkan kepada kita untuk berfokus pada kelebihan diri, ia menjadi mendorong kita untuk mengabaikan kelemahan diri. Padahal, dalam beberapa hal kita selalu dituntut untuk cerdas dalam hal tertentu.

Akhirnya, kita memang harus mengapresiasi kehadiran AI. Tapi tidak dengan sikap euforia dan pengabaian fanatik terhadap kelemahan diri. Kebijaksanaan kita menyikapi dan memfilter konsep yang masih hangat untuk kalangan kita ini akan menentukan nilai kontribusi AI. Yang pasti, kecerdasan mengapresiasi apa pun bentuknya selalu kita butuhkan untuk memaksimalkan motivasi. Motivasi dalam ranah pendidikan, tempat kerja, masyarakat, juga motivasi dalam ranah apa saja. Hanya saja yang perlu kita waspadai, apresiasi sebaiknya tetap diimbangi dengan perbaikan kualitas "kelemahan" diri. (Penulis, aktivis Forum Kajian Psikologi Perkembangan, Laboratorium Psikologi Perkembangan UIN Suka Yogyakarta)**

copyright © 2001 www.klik-galamedia.com

bismillah,,catatan kecil

Jumat, 06 November 2009
”Apreciative Inquiry”, Euforia atau Apresiasi?
Oleh: NURUL LATHIFFAH
DEWASA ini, pandangan optimistis tentang manusia semakin berkembang. Ini kita rasakan karena pandangan itu telah menjadi tren tersendiri dalam ranah pendidikan. Tak bisa dimungkiri, ini adalah derivat konseptual psikologi humanistis yang terus berusaha mencari bentuk ideal agar manusia dapat memaksimalkan potensi dirinya. Pada gilirannya, kita kini mulai sadar bahwa konsep yang berakar dari pendangan humanistis membuat dunia pendidikan kita mulai kreatif mencari alternatif-alternatif dan solusi atas frustrasi masif yang dihadapi.

Dalam ranah pendidikan, kini pun kita dihadapkan dengan tren kreatif. Sekolah-sekolah anak berkebutuhan khusus hadir untuk menenteramkan kegelisahan masyarakat dengan konsepnya yang humanis dan membuat kita terpesona bahwa dalam diri manusia selalu ada sisi-sisi positif yang bisa diberdayakan. Artinya, ketika ada satu entitas di mana individu lemah dan bahkan mengalami disfungsi dalam suatu hal, maka kita akan membantunya melakukan upaya kompensasi. Jika kecerdasan intelektualnya memiliki kapasitas sedang, konsekuensinya kita akan mengoptimalkan kecerdasan yang bisa dipelajari, bukan hanya kecerdasan yang "terberi".

Sebenarnya ide ini bukanlah hal yang baru dan asing. Jauh sebelum ini, kita telah diperkenalkan dengan kecerdasan emosi yang membuat kita tersadar bahwa manusia bukanlah makhluk yang mekanistis. Intelegensi bawaan dan kapasitas intelektual nyatanya memang bukan sebuah hal yang menjamin sukses seseorang. Sampai di sini kita paham, bahwa pandangan optimistis terhadap manusia telah melahirkan beragam kecerdsan yang membuat manusia semakin peka menggali potensi dirinya. Salah satu produk pandangan optimistis itu kini bermetamorfosis, menjadi AI atau apreciative inquiry.

Lalu kini pertanyaannya, apa yang membedakan kecerdasan AI dengan pandangan-pandangan humanis yang pernah kita terima dulu? Atau jangan-jangan ia bukan hal yang baru? AI adalah suatu seni dan praktik bertanya yang memperkuat kapasitas manusia dan sistem manusia untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Ia adalah sebuah metode yang menyadarkan manusia bahwa dalam diri manusia selalu ada sisi positif yang bisa diberdayakan, sebagai kompensasi atas minimnya keterampilan manusia dalam beberapa hal.

Ciri yang menonjol dalam AI adalah asumsi yang dibangunnya, bahwa kehidupan adalah misteri. Jika dulu dalam setiap rumusan solusi kita selalu berusaha menentukan problem solving, maka dalam AI, itu dianggap tidak penting. Dalam problem solving, mau tidak mau kita harus menganalisis dan berfokus pada analisis penyebab; suatu hal yang kita anggap menguras energi yang cukup banyak. Sedangkan, AI hanya berfokus pada upaya memberdayakan sesuatu yang mungkin. Ini sekaligus mengarahkan kita agar berfokus pada potensi diri daripada berfokus pada permasalahan dan problema yang dialami.

Konsep AI memang lebih optimistis. Dan karenanya, kita mudah terpesona. Bahkan dengan kehadirannya, kita telah mengalami semacam euforia bahwa setiap manusia memiliki potensi yang sama untuk menonjol dalam beberapa hal. Pun demikian, kita harus tersadar dan tetap menjadi makhluk yang realistis. Bahwasanya, mengapresiasi AI tidak sama dengan percaya sepenuhnya akan konsep yang ditawarkan. Ada hal-hal yang harus kita kritisi. Bahwa, meskipun AI mengajarkan kepada kita untuk berfokus pada kelebihan diri, ia menjadi mendorong kita untuk mengabaikan kelemahan diri. Padahal, dalam beberapa hal kita selalu dituntut untuk cerdas dalam hal tertentu.

Akhirnya, kita memang harus mengapresiasi kehadiran AI. Tapi tidak dengan sikap euforia dan pengabaian fanatik terhadap kelemahan diri. Kebijaksanaan kita menyikapi dan memfilter konsep yang masih hangat untuk kalangan kita ini akan menentukan nilai kontribusi AI. Yang pasti, kecerdasan mengapresiasi apa pun bentuknya selalu kita butuhkan untuk memaksimalkan motivasi. Motivasi dalam ranah pendidikan, tempat kerja, masyarakat, juga motivasi dalam ranah apa saja. Hanya saja yang perlu kita waspadai, apresiasi sebaiknya tetap diimbangi dengan perbaikan kualitas "kelemahan" diri. (Penulis, aktivis Forum Kajian Psikologi Perkembangan, Laboratorium Psikologi Perkembangan UIN Suka Yogyakarta)**

copyright © 2001 www.klik-galamedia.com

tulisan kecil,,,,

Sabtu, 24 Oktober 2009
Konsep Pendidikan Moral yang Final dan Total
Oleh: NURUL LATHIFFAH
MENANAMKAN pendidikan moral bukanlah hal yang mudah. Pasalnya, pendidikan moral bersifat mendalam dan menuntut proses internalisasi nilai. Jika keseluruhan pendidikan hanya mengandalkan hafalan dan aktivitas mekanis lainnya, barangkali masyarakat kita akan menjadi masyarakat yang mind oriented. Dengan kata lain, segala sesuatu akan kita perhitungkan secara rasional, tanpa mempertimbangkan hal-hal yang bersifat emosi dan intuitif lainnya.

Padahal, kita paham bahwa sesuatu yang hanya berpijak pada kekuatan intelektual, sudah pasti akan menyebabkan ketimpangan pada beberapa sisi. Nah, di sinilah pendidikan moral menjadi sangat penting. Sayangnya, meski pendidikan dalam aspek moral ini sangat penting, sampai saat ini kita (bisa dikatakan) hampir mengalami frustrasi. Tidak sedikit pendidik yang mengeluhkan betapa sulitnya memberikan pendidikan moral kepada siswa-siswanya. Tentu hal ini sangat wajar, karena pendidikan moral dipengaruhi banyak hal. Jika pun di lingkungan akademis, siswa atau mahasiswa telah diberi penanaman moral yang baik, tetapi di rumah dan di lingkungannya mengalami kemiskinan figur teladan, maka pendidikan moral kemudian menjadi tidak konsisten. Nah, sampai di sini kita jadi paham, bahwa kerja sama melakukan pendidikan moral memang harus dilakukan, baik oleh pendidik, masyarakat, maupun pemerintah secara berkelindan dan sinergis.

Meski demikian, dalam menyampaikan pendidikan moral, kita tetap memerlukan strategi agar pendidikan moral dapat dipahami serta diinternalisasi. Sekarang persoalannya, bagaimana konsep pendidikan moral yang final dan total? Kita akan merujuk pada perspektif psikologi perkembangan. Kohlberg( Santrock, 2005) mengemukakan bahwa ada tiga tahap penalaran moral yang dilakukan setiap individu secara general. Ketiga tahapan itu adalah prakonvensional, konvensional, dan pascakonvensional.

Tahapan terendah yang sekaligus menjadi level pertama penalaran moral adalah tahapan prakonvensional. Pada taraf ini, individu menaati norma-norma dalam ajaran moral dan kemanusiaan dengan alasan takut mendapatkan hukuman. Dalam tingkat pemahaman ini, tidak ada proses internalisasi nilai. Kepatuhan pada nilai moral dilakukan secara terpaksa.

Selanjutnya pada tahap konvensional, individu memutuskan untuk taat atau tidak taat pada sistem moral dan norma masyarakat dengan alasan agar ia dapat diterima dan mendapat penghargaan secara sosial. Pemahaman moral semacam ini, meski lebih baik dari yang pertama, tapi belum mencerminkan internalisasi nilai. Pemahaman ini masih bersifat perifer dan parsial.

Idealnya, pendidikan harus mampu mengantarkan individu kepada tahap penalaran moral yang terakhir, yakni pascakonvensional. Pada tahap inilah, pertimbangan moral dan internalisasi nilai dilakukan dengan final dan total. Pemahaman semacam ini akan mengantarkan individu untuk melakukan sesuatu bukan semata-mata karena menginginkan reward (hadiah) atau menghindari punishment (hukuman). Akan tetapi, lebih esensi dari itu, individu akan menaati sistem moral dan nilai dalam masyarakatn, dengan kematangan dan kesadaran penuh, tanpa tendensi kepentingan pribadi (materi).

Nah, sampai di mana tahapan penalaran moral peserta didik kita saat ini? Akhirnya, kita perlu menuntut mekanisme pendidikan kita, agar mendesain pendidikan moral yang dapat mengantarkan peserta didik kepada tahapan penalaran moral yang pascakonvensional. Konsep ini adalah starting point bagi kita, untuk membuat strategi khusus agar penalaran pada level ketiga versi Kohlberg dapat dilakukan peserta didik. Ada banyak cara tentunya, dan karena kita mempercayai bahwa setiap individu memiliki individual differences, maka kita paham setiap orang memiliki cara uniknya sendiri. Dan sekali lagi, pendidikan moral adalah tanggung jawab kita bersama, baik pendidik, masyarakat, juga pemerintah. Maka, ia harus tetap kita upayakan secara kolektif, dan total. Wallahu 'alam. (Penulis, aktivis Forum Kajian Psikologi Laboratorium Psikologi Perkembangan UIN Yogyakarta)**

copyright © 2001 www.klik-galamedia.com
Anak-anak dalam Kepungan Lagu-lagu Dewasa
Oleh: NURUL LATHIFFAH
ASUMSI bahwa anak-anak lebih akrab dengan lagu remaja adalah fenomena yang kita amini bersama. Sejalan dengan tayangan media yang memopulerkan idola cilik yang membawakan lagu-lagu bernuansa remaja, lagu-lagu itu secara bahasa dan kosakata menjadi lebih akrab dan dekat dengan anak-anak. Media massa memang telah berhasil membentuk mindset yang meyakini bahwa menyanyikan lagu dewasa bagi anak, merupakan sebuah pelatihan dan pertunjukan yang luar biasa. Anak-anak kini dalam kepungan lagu-lagu dewasa.

Pada awalnya, hal ini kita terima dengan respons yang wajar. Sepintas, semua tampak baik-baik saja. Rating acara televisi yang menyajikan idola cilik menyenandungkan lagu-lagu dengan konten remaja madi melambung. Penonton meski tidak mendapatkan sebuah nilai estetis, secara alami telah mendapatkan hiburan yang menyenangkan. Mungkin sebuah kelucuan ekspresi. Atau bisa jadi, suatu hal langka dan harus diapresiasi.

Sayangnya, untuk sebuah pertunjukan fantatis ini, kita harus membayar mahal dengan akibat yang berbahaya bagi anak-anak. Ada semacam pendewasaan secara tidak sehat yang coba kita paksakan secara halus kepada anak-anak. Konsep-konsep tentang cinta lawan jenis, cemburu buta, pacaran, dan sejenisnya telah kita perkenalkan dengan intens, melalui lagu-lagu dewasa dan ini secara alami akan menyita energi psikis mereka.

Idealnya, anak-anak berfokus pada latihan keterampilan dasa, dan bukan pada emosi-emosi orang dewasa yang agak sulit dipahami dengan kapasitasnya. Lompatan pembelajaran semacam ini, berpotensi melemahkan anak dalam mempelajari kecerdasan dasar untuk menunjang keterampilan dan kecerdasannya di masa depan. Perpanjangan dari fenomena yang kita biarkan begitu saja ini, adalah daya konsentrasi anak yang seharusnya berfokus pada pelajaran membaca dan operasi hitung sederhana berkurang. Anak-anak menjadi lebih sulit berkonsentrasi.

Apakah kedekatan anak-anak dengan lagu remaja ini mengisyaratkan bahwa kita miskin lagu-lagu anak-anak? Mungkin benar. Kita kurang hangat pada lagu-lagu anak-anak. Media tampaknya lebih berpihak pada keuntungan finansial daripada keuntungan jangka panjang. Anak-anak (seringkali) hanya dapat mengakses lagu-lagu dunianya di sekolah. Selebihnya, mereka mendengar lagu-lagu remaja. Hal ini minimal memberikan efek bagi anak-anak, yaitu terbiasa dengan lagu-lagu dewasa dan mulai larut di dalamnya.

Akhirnya, kita (memang) harus mengakrabkan anak-anak dengan dunianya, dengan lagu-lagu yang setaraf dengan perkembangannya agar mereka memaksimalkan tahap perkembangannya. Ada banyak hal yang bisa dikerjakan. Mulai dari memberi kesempatan bagi lagu anak-anak untuk diperdengarkan bersama, memperbanyak acara untuk anak-anak dengan sajian lagu-lagu lucunya, juga memberi motivasi pada anak agar bangga menyanyikan lagunya. Harapannya, ke depan generasi kita akan lebih mampu berfokus pada tahapan perkembangannya. Sehingga tugas-tugas perkembangan seperti membaca, menulis, dan berhitung dapat diselesaikan dengan maksimal. Wallahualam. (Penulis, aktivis forum kajian psikologi perkembangan, Lasiper UIN Suka Yogyakarta)**
galamedia, jumat 9 oktober 2008

Selasa, 05 Januari 2010

puisi

PuisiPuisi Nurul Lathiffah

Untuk Fatan
:pertama,

sebenarnya, aku meneteskan airmata seirama embun
di sela daun, dan diamdiam kuharap engkau tahu
memang cuaca masih temaram dan suarasuara dari langit
masih saja berjatuhan

aku semakin yakin, sulit bagimu
;membaca apa yang kutuliskan
//tapi katamu,
kau akan menjaga kita dengan doa//
(sepertinya aku percaya)

maka aku melihat cahaya kata
juga suara yang datang dari kejauhan
membawa pergi kesenyapan yang menyelubungiku
cukup lama

ada tiga hal yang kini menjaga kita
: cinta, airmata, juga doa

san kuhias cuaca yang tak selalu indah
--sebuah cara sederhana mendiamkan air,
yang bertemu bebatuan—

KulonProgo, 17 September 2009

Untuk Fatan
:kedua,

tak ada catatan yang hendak kuangsurkan-
padamu
tapi berserakan puisi yang kutulis
semakin mendewasa menjadi sajak
dan disitu aku belajar, mengatur baris demi baris
;asa

pun meski begitu,
mustahil menafikan cahaya
dari ranting-ranting kata yang kau kumpulkan
lalu kau bakar menjadi pelita

akh, apa engkau lelah?

aku hanya membaca
sampai sejauh kata dan isyarat terhampar
dan pelitamu masih terang
entah. Maaf,
(diam-diam, bolehkah aku ikut menjaga nyalanya?)

KulonProgo, 17 September 2009

Kertas, Syair, dan Abu

Tuhan—
di luar, hujan berlarian, berlompatan,
ada kertas yang ramai katakata
sebaiknya kutaruh di luar, biar disucikan

tapi, itu syair yang pernah kami tulis
di kertas yang sama, di waktu yang berlainan,

I aku takut kehilangan jejakjejak yang pernah-
membuat lelahku semakin tegar
II aku takut, jika ini adalah hujan penghabisan
dengan apa kelak aku akan menghapusnya?

Tuhan—
jika ini adalah hujan penghabisan
dan syair kami harus dilupakan
kirimkan kepada kami apiMu di suatu ketika
dan hadirkan kami, di dekatnya

kami akan kusyu’ membakarnya
dan melafal syukur, bukan airmata

KulonProgo, 17 September 2009

Ibu
:di mana engkau rahasiakan rumahmu?

Ibu,
dan ketegaranku yang mulai menyusut-
mulai menciptakan rinduku padamu

maka perjalananku selalu berhulu,
kepadamu. Di rumahku
--yang penuh kupukupu—

dan aku pulang, padamu
ada garis tua semakin giat mencatat usia

masih banyak kupukupu jingga, juga biru
mengingatkanku pada caramu, mengepang rambutku

tapi setelah aku pamit dan menyeka airmatamu,
kau bisikkan kepada tanganku,
“Ibu pun akan pulang, ke rumah kupukupu
juga tempat muasal madu”

KulonProgo, 17 September 2009


Rifka Zammilah
: aku ingin melipat wajah, bersamamu

Dek, katakatamu telah mengelopak
dari kuncup yang pernah kunafikan
tapi selalu kau rawat;maaf.

kelak kau pasti akan paham
seperti awan yang menyaksikan bahwa
selalu ada gerimis yang turun menjadi hujan lebat,
di tempat yang lain

Dek, kini aku inginmelipat wajahku bersamamu

kau memang tak pernah menarasikan
asalusul gerakan rahasia dan sederhana itu
tapi karena kau masih melipat wajah serapat itu,

aku akan bersamamu, di sampingmu
melipat wajahku

KulonProgo, 17 September 2009

Sebuah Jawaban
;untuk iman

maaf, terlalu lama aku menafikan dan
semakin panjang langkah demi langkah
meninggalkanmu, iman

aku ingin membaca banyak hal,
yang belum juga kau ceritakan

tentang rosella yang memutih atau memerah
tentang cahaya yang indah atau membakar wajah

iman,
setelah aku ditusuk duri-duri di luar sana
aku kini menjawab sapamu, tulusmu

maafkan aku

barangkali aku harus bersabar, mendengar ceritamu
kelak, di saat yang tepat

dan jadi bekal, agar lebih kuat, menahan luka
kelak,

KulonProgo, 17 September 2009


Nurul Lathiffah,

sajak-sajak

Malam di Pucuk daun
; dan embun di ujung kelabu

dalam syair, lama kutafsir angin juga dederu yang sempat-
engkau panggil, di wajahku
tiba-tiba melintas, kenangan yang pernah rebah
dan membagi wangi yang tinggal senafas

kusimpan dalam seruang, sewaktu
membeku, dan menyederhanakan harapan
tentang pernikahan kenanga, anggrek, juga melati

penyederhanaan itu
seperti airmata kita yang melelah
di waktu yang tak sama, di cuaca yang tak sama
tapi sama terkumpul dalam keheningan
yang pernah kita sebut sebagai perahu keabadian

di situ dayung tak bermakna kayu apalagi kayuh

sementara malam di pucuk daun
dan embun di ujung kelabu
belum juga menjadi sauh di mataku

Yogyakarta, Desember 2009

Di Rintikmu, Kutulis Doa
: fatan

sejerih, melukis doa di rintikmu yang sering turun
sangat tergesa, mengejar waktu yang semakin bersayap
seperti aku menuju aqabah
dan jika tak sampai, sejarah kita hanya tergenang airmata

perjalanan yang mendaki lagi sulit
tapi, di rintikmu, aku telah berjanji hendak menulis doa
agar jika jatuh,

ia akan bercerita, tidak tentang kesia-siaan
tapi tentang kejerihan, juga kejernihan

dan seperti biasa, langit mengelam
aku masih mengejar rintikmu dengan doa
dan tinta tinta yang bening, mungkin tak menandai kata
juga jejak doa sekhalis awan kepada hujan
Yogyakarta, Desember 2009
, Nurul Lathiffah, Lahir di Kulon Progo, 21 September 1989. Menulis puisi, cerpen, artikel kecil dan esai. Beberapa tulisannya pernah di muat di SKH kedaulatan Rakyat, Koran Minggu Pagi, Harian Jogja, Bernas Jogja, Koran Merapi, Buletin Lontar, Majalah Sastra Horison, dan Majalah Sabili. Saat ini berupaya menempuh studi pada studi psikologi, fakultas ilmu social dan humaniora UIN sunan Kalijaga Yogyakarta.
Budaya Membaca
Oleh: Nurul Lathiffah*)
Membaca, sesungguhnya adalah proses mental-psikologis yang cukup fundamental dalam membangun logika pengetahuan, sekaligus merancang konsepsi-konsepsi yang pada gilirannya mencerahkan iklim kreativitas. Sayangnya, budaya massal cenderung mengaksentuasikan sekaligus memberikan ruang komunikasi yang lebih luas dalam aspek oral. Melalui dongeng, nasihat, dan ceramah yang secara substansi mengandung dogma tertentu, kita didewasakan sekaligus diajarkan untuk menguasai budaya oral.
` Perpanjangan dari kasus ini, adalah budaya oral jauh kita kembangkan dengan eksploratif, dan miskin konstruksi secara keilmuan. Fenomena ini sama sekali bukan sebuah kesalahan yang harus dicoret dan ditiadakan. Hanya saja, aspek oral yang tidak ditopang atau sangat minim ditopang oleh teori ilmu pengetahuan dan diksi yang tepat serta linguistik yang tertata hanya akan berakhir pada kesimpulan yang intuitif saja, sama seperti cerita atau narasi yang rumpang akan rasionalisasi yang dapat diandalkan.
Membaca, adalah proses menata ulang konsep pengetahuan, karena pengetahuan di masa lalu masih bersifat parsial. Oleh karena itu, diperlukan totalitas pemahaman agar konsep itu termanifestasikan secara total dalam konstruk pemahaman yang lebih global. Membaca, jika dikaitkan dalam wilayah kepemimpinan, adalah sebuah budaya yang harus diciptakan dengan kesadaran partisipan dan kontinuitas. Bagaimanapun juga, membaca adalah cara paling aman dalam belajar. Ia membentuk pola logika menjadi lebih sistematis, terencana, dan fokus pada permasalahan. Membaca juga sarana efektif dalam mempelajari diksi dan menajamkan kecerdasan linguistik.
Howard Gardner, penggagas multiple intellegence mengemukakan sedikit petunjuk tentang kecerdasan linguistik ini. Kecerdasan linguistik berhubungan dengan kecerdasan memahami diksi, menganalisa penafsiran, menyampaikan gagasan, daya tangkap yang tinggi dan ideal terhadap kalimat yang kompleks, multitafsir, serta kemampuan mempresentasikan gagasannya secara oral dan tulis.
Kecerdasan linguistik, atau yang lebih popular dalam istilah word smart, dapat pula ditafsirkan secara lebih sederhana sebagai kecerdasan mempergunakan kata-kata secara efektif. Kecerdasan linguistik dapat dilejitkan dalam dua jalur yang saling berkelindan. Jalur pertama, membaca pengetahuan kemudian mentransformasikannya dalam simbol-simbol, dan jalur keduanya adalah membaca visualisasi karya atau konsepsi seseorang lalu menelusuri pemahaman seseorang dengan membaca. Keduanya, sesungguhnya akan bermuara pada satu hal yang sama, kemudahan pemahaman.
Membaca, selain mempertajam kecerdasan linguistik, juga dapat meminimalisasi efek dari krisis figur teladan. Kita tahu, betapa novel Ayat-ayat Cinta telah menghadirkan keteladanan yang di Indonesia masih “melangit” dengan karakter Fahri. Jika pembaca yang mengahayati novel ini, pada awalnya menilai kualitas laki-laki dari dimensi fisik, maka membaca novel karya Kang Abik akan mengajarkan sekaligus memberi legitimasi yang kuat bahwa laki-laki dipilih karena kualitas akhlaknya.
Hal ini juga berlaku bagi anak-anak, efek membaca kisah teladan bagi mereka, adalah identifikasi diri dan internalisasi nilai. Psikologi perkembangan meyakini bahwa anak—dengan prinsip kaset kosongnya—memiliki kapasitas yang hebat untuk merekam input apa pun, tanpa mengenal baik atau buruk.
Budaya membaca, meski bisa diciptakan pada usia dewasa, tetapi memiliki idealitas bahwa seharusnya ia mulai terpola sejak usia dini. Ada fenomena yang cukup dasyat dewasa ini. Nampaknya, pemerintah mulai menyadari bahwa pendidikan usia dini sangat penting, sehingga struktur jenjang pendidikan mulai direkonstruksi. Pendidikan Anak Usia Dini mulai dikembangkan agar anak dapat berkembang secara maksimal, agar proses kaderisasi pemimpin bangsa yang berkualitas diupayakan lebih awal. Dalam kasus ini, budaya membaca memang belum bisa diaplikasikan secara langsung, karena mengingat kapasitas belajar anak.
Akan tetapi ini tidak berarti bahwa budaya baca belum bisa ditransformasikan kepada anak. Pada usia dini, memperkenalkan budaya membaca tidak harus dengan mengajarkan membaca, akan tetapi dengan jalur bercerita, memahamkan minat anak pada hal-hal yang sifatnya naratif, atau menumbuhkan minat bertanya dan daya kritis. Seiring dengan kapasitas intelektualnya yang mulai bertambah, anak akan mempelajari cara membaca dengan antusias karena ia paham dan sadar bahwa membaca akan dapat memuaskan dahaga inteletualitasnya sebagai makhluk ‘baru’ di dunia.
Budaya membaca, semestinya memang diciptakan, karena ia tidak tumbuh serta merta. Kebiasaan sikap kritis pada usia dini memang bisa menjadi pemantik budaya gemar membaca. Akan tetapi, ini sama sekali tidak menutup kemungkinan untuk menciptakan budaya gemar membaca bagi awam. Penciptaan budaya membaca, sesungguhnya adalah praksis mengkomunikasikan pengetahuan sekaligus informasi untuk memberi pemahaman dan pencerahan. Pasca reformasi, ketika demokrasi menadapat angin segar dan diberi ruang untuk mengatakan aspirasi masyarakat, tumbuhlah budaya membaca bacaan popular di kalangan awam.
Apa pasal? Iklim ini membuat masyarakat bebas mengakses informasi baik melalui media masa, dan ini membawa sebuah perubahan yang cukup siginifikan: masyarakat telah terinteletualisasi oleh media masa, dengan kemasan bahasa yang ringan tapi mampu mendiskripsikan fakta dan informasi secara total. Hal ini juga dapa dipahami sebagai upaya mencerdaskan generasi karena generasi senior yang cerdas akan mengarahkan generasi di bawahnya untuk mentarnsformasikan pengetahuan meski dalam porsi yang ala kadarnya. Tapi selalu saja, ia akan memberi makna bagi sebuah proses intelektualisasi publik secara masal.
Sayangnya, (entah siapa yang memulai) betapa sering kita memahami membaca sebagai kebiasaan yang introvert dan aktivitas asosial. Padahal membaca secara total sesungguhnya adalah proses transformasi pengetahuan yang meluas, tidak hanya secara individual semata. Kita dilatih secara budaya untuk menyukai dialektika, padahal sesungguhnya aktivitas itu dimulai dari aktivitas membaca. Semua ini berawal dari sesuatu yang sederhana tapi fundamental: menciptakan budaya membaca sehingga mengaktifkan sistem kepekaan. Membaca apa saja. Koran, majalah, buku, tentu dengan menyertakan kreativitas juga totalitas.
*) Nurul Lathiffah, Mahasiswi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial Humaniota UIN Suka Yogyakart

DIAMUAT di merapi, Rabu 6 Januari 2010

asa di langit taat

Malam di Pucuk daun
; dan embun di ujung kelabu

dalam syair, lama kutafsir angin juga dederu yang sempat-
engkau panggil, di wajahku
tiba-tiba melintas, kenangan yang pernah rebah
dan membagi wangi yang tinggal senafas

kusimpan dalam seruang, sewaktu
membeku, dan menyederhanakan harapan
tentang pernikahan kenanga, anggrek, juga melati

penyederhanaan itu
seperti airmata kita yang melelah
di waktu yang tak sama, di cuaca yang tak sama
tapi sama terkumpul dalam keheningan
yang pernah kita sebut sebagai perahu keabadian

di situ dayung tak bermakna kayu apalagi kayuh

sementara malam di pucuk daun
dan embun di ujung kelabu
belum juga menjadi sauh di mataku

Yogyakarta, Desember 2009

Di Rintikmu, Kutulis Doa
: fatan

sejerih, melukis doa di rintikmu yang sering turun
sangat tergesa, mengejar waktu yang semakin bersayap
seperti aku menuju aqabah
dan jika tak sampai, sejarah kita hanya tergenang airmata

perjalanan yang mendaki lagi sulit
tapi, di rintikmu, aku telah berjanji hendak menulis doa
agar jika jatuh,

ia akan bercerita, tidak tentang kesia-siaan
tapi tentang kejerihan, juga kejernihan

dan seperti biasa, langit mengelam
aku masih mengejar rintikmu dengan doa
dan tinta tinta yang bening, mungkin tak menandai kata
juga jejak doa sekhalis awan kepada hujan
Yogyakarta, Desember 2009
, Nurul Lathiffah, Lahir di Kulon Progo, 21 September 1989. Menulis puisi, cerpen, artikel kecil dan esai. Beberapa tulisannya pernah di muat di SKH kedaulatan Rakyat, Koran Minggu Pagi, Harian Jogja, Bernas Jogja, Koran Merapi, Buletin Lontar, Majalah Sastra Horison, dan Majalah Sabili. Saat ini berupaya menempuh studi pada studi psikologi, fakultas ilmu social dan humaniora UIN sunan Kalijaga Yogyakarta.