apa bedanya psikolog dengan dokter, saat keduanya diposisikan sebagai 'penyembuh'?
dokter, menyembuhkan dengan obat, dan urusan akan berakhir setelah menyerahkan resep...sedangkan psikolog, menerima kesah klien nya, secara positif tanpa syarat apa pun, psikolog, mendengarkan tidak hanya dengan pendengar saja, tapi ia mendengarkan dengan mata, dengan hati....ia tak hanya membaca dan mendengarkan yang dikatakan,,tapi ia mendengar kesah yang tak terkatakan, ia mendengar rintih dari lipatan kecil di sudut wajah; karena ini adalah pekerjaan hati..ia mendengarkan, mgkin akan melelahkan,,tapi tulus membuatnya lebih tegar,,tak ada maksud untuk membuatnya tergantung ;-) ia hanya ingin meringankan...dan membuat klien nya lebih kuat melalui masa-masa yang tak mudah,, ;-)
Senin, 22 Februari 2010
Rabu, 17 Februari 2010
ada jeda di mana aku bergenti, cinta...
ada jeda di mana aku berhenti, cinta....ada saat di mana kita diizinkan,,,,ada saat saat di mana adalah pahala....karena takut kita padaNya....hanya saja, aku tetap akan mencintai cinta, dan menjaganya, sampai ia mendewasa, sampai ia berhenti di titik taat kita...
Senin, 15 Februari 2010
Kamis, 21 Januari 2010
sungguh.....
sungguh,,aku hanya ingin mencintai cinta..tak lebih...mungkin bukan engkau...tapi dia,,cinta...yang tunduk di titik taat...
Rabu, 13 Januari 2010
kepemimpinan Rabbani
Kepemimpinan Rabbani
Oleh: Nurul Lathiffah*)
Mahasiswi Psikologi Fakultas Ilmu Sosial Humaniora UIN Suka Yogyakarta
Awal tahun 2009, ada aksioma klasik atau semacam ekspektasi kepada hal-hal urgen di sekitar kita. Salah satunya tentang kepemimpinan. Dalam hal apa pun, terlebih dalam konteks negara, kita selalu rindu kepemimpinan yang salih dan tidak dzalim. Kita rindu masyarakat iman, komunitas Rabbani yang mengedepankan kesalihan, sekaligus mewariskannya kepada generasi di bawahnya. Kita pun rindu, pemimpin yang memiliki kebijakan humanis, tapi tetap tegas dan memiliki wibawa yang kuat di masyarakat.
Islam,mengkonsepsikan kepemimpinan yang kita cita-citakan itu, dengan istilah yang kita sebut sebagai kepemimpinan Rabbani. Kepemimpinan ini, berangkat dari konsep-konsep nubuwwah, dan ketaladanan sahabat Nabi Muhammad SAW. Sebut saja Umar Ibn Khatab. Bahwa ia pemimpin yang tegas dan keras, tidak kita sangsikan. Tetapi, di bilah yang lain, Umar Ibn Khatab sangat lembut, bahkan ia mengambil kebijakan dengan sangat humanis, juga tolerantif.
Ia—Umar ibn Khatab—adalah pemimpin yang memberantas kedzaliman, tak hanya secara parsial. Umar tidak hanya mendengungkan ketidakadilan, tetapi ia bergerak, semaksimal yang ia bisa. Adakah pemimpin kita rela terjun ke masyarakat untuk mengetahui tingkat kesejahteraan secara objektif? Umar Ibn Khatab pada zamannya, bahkan rela mengejar unta zakat yang lepas. Pun meski demikian kuatnya Umar dalam mengemban amanah, ia tidak serta merta memperlakukan dan menuntut warganya menjadi malaikat. Kebijakan Umar memang tegas, bahkan keras. Tetapi, kebijakannya humanis, insani. Bahkan saat Abu Bakar, orang yang sangat lembut itu hendak memerangi muslim yang tidak mau berzakat, justru Umar Ibn Khatab bersikap lunak.
Rabbani, adalah sebuah konsep yang menarik. Rabbani sekaligus insani. Ada pedoman norma, tapi juga ada toleransi. Dalam Jami’ul Bayaan fii Ta’wilil Qur’aan, Al Imam Ibnu Jarir Ath Thabari menyebutkan ada lima hal yang menjadi ciri khas Rabbani. Pertama, orang yang Rabbani haruslah orang yang berilmu dan berwawasan ( ‘alim dan mutsaqqaf). Tentu, ini meliputi baik ilmu duniawi, maupun ilmu ukhrawi, ilmu umum, dan ilmu agama. Dua ilmu ini, saling berkelindan dalam mewujudkan sikap, atau perilaku yang Rabbani. Keduanya jika bersimbiosis, menghasilkan ilmu yang ilmiah dan amal yang amaliah.
Kedua, orang yang Rabbani harus faqih. Seorang yang faqih, mampu melihat apa yang ada di balik sesuatu, mendengarkan yang tak terucap, dan menilai secara holistik dan total. Seorang yang Faqih, mampu meyelesaikan persoalan dan menyelesaikannya tak hanya dengan teori, tapi telah diimbangi dengan pertimbangan konteks. Pribadi semacam ini, pun mengindikasikan adanya kematangan pribadi (ar- rusyd). Ketiga, seorang yang Rabbani memiliki kedalaman pandangan tentang politik ( al bashirah bis siyasah). sederhananya, ia memiliki seni membuat kebijakan yang menentramkan bagi semua.
Poin keempat, kepemimpinan Rabbani dicirikan oleh kemampuan manajemen dan memberdayakan sesuatu,secara tepat. Ia pandai memposisikan seseorang untuk menghasilkan performansi baik kerja dan ibadah secara maksimal. Terakhir, kepemimpinan Rabbani memiliki kepedulian pada kepentingan publik. Betapa, kita sadari, kita selalu merindukan diri kita menjadi insan Rabbani sekaligus dipimpin oleh pemimpin yang Rabbani. Pemimpin Rabbani, dapat secaa tegas menggaransi kesejahteraan yang dipimpin. Kini, di awal tahun ini kita berharap masing-masing kita adalah insan yang Rabbani. Dan akhirnya, mari berdoa, agar kita menjadi insan Rabbani, sekaligus dikaruniakan pemimpin yang Rabbani; pemimpin yang dicintaiNya dan dicintai rakyatnya. Amin.
Oleh: Nurul Lathiffah*)
Mahasiswi Psikologi Fakultas Ilmu Sosial Humaniora UIN Suka Yogyakarta
Awal tahun 2009, ada aksioma klasik atau semacam ekspektasi kepada hal-hal urgen di sekitar kita. Salah satunya tentang kepemimpinan. Dalam hal apa pun, terlebih dalam konteks negara, kita selalu rindu kepemimpinan yang salih dan tidak dzalim. Kita rindu masyarakat iman, komunitas Rabbani yang mengedepankan kesalihan, sekaligus mewariskannya kepada generasi di bawahnya. Kita pun rindu, pemimpin yang memiliki kebijakan humanis, tapi tetap tegas dan memiliki wibawa yang kuat di masyarakat.
Islam,mengkonsepsikan kepemimpinan yang kita cita-citakan itu, dengan istilah yang kita sebut sebagai kepemimpinan Rabbani. Kepemimpinan ini, berangkat dari konsep-konsep nubuwwah, dan ketaladanan sahabat Nabi Muhammad SAW. Sebut saja Umar Ibn Khatab. Bahwa ia pemimpin yang tegas dan keras, tidak kita sangsikan. Tetapi, di bilah yang lain, Umar Ibn Khatab sangat lembut, bahkan ia mengambil kebijakan dengan sangat humanis, juga tolerantif.
Ia—Umar ibn Khatab—adalah pemimpin yang memberantas kedzaliman, tak hanya secara parsial. Umar tidak hanya mendengungkan ketidakadilan, tetapi ia bergerak, semaksimal yang ia bisa. Adakah pemimpin kita rela terjun ke masyarakat untuk mengetahui tingkat kesejahteraan secara objektif? Umar Ibn Khatab pada zamannya, bahkan rela mengejar unta zakat yang lepas. Pun meski demikian kuatnya Umar dalam mengemban amanah, ia tidak serta merta memperlakukan dan menuntut warganya menjadi malaikat. Kebijakan Umar memang tegas, bahkan keras. Tetapi, kebijakannya humanis, insani. Bahkan saat Abu Bakar, orang yang sangat lembut itu hendak memerangi muslim yang tidak mau berzakat, justru Umar Ibn Khatab bersikap lunak.
Rabbani, adalah sebuah konsep yang menarik. Rabbani sekaligus insani. Ada pedoman norma, tapi juga ada toleransi. Dalam Jami’ul Bayaan fii Ta’wilil Qur’aan, Al Imam Ibnu Jarir Ath Thabari menyebutkan ada lima hal yang menjadi ciri khas Rabbani. Pertama, orang yang Rabbani haruslah orang yang berilmu dan berwawasan ( ‘alim dan mutsaqqaf). Tentu, ini meliputi baik ilmu duniawi, maupun ilmu ukhrawi, ilmu umum, dan ilmu agama. Dua ilmu ini, saling berkelindan dalam mewujudkan sikap, atau perilaku yang Rabbani. Keduanya jika bersimbiosis, menghasilkan ilmu yang ilmiah dan amal yang amaliah.
Kedua, orang yang Rabbani harus faqih. Seorang yang faqih, mampu melihat apa yang ada di balik sesuatu, mendengarkan yang tak terucap, dan menilai secara holistik dan total. Seorang yang Faqih, mampu meyelesaikan persoalan dan menyelesaikannya tak hanya dengan teori, tapi telah diimbangi dengan pertimbangan konteks. Pribadi semacam ini, pun mengindikasikan adanya kematangan pribadi (ar- rusyd). Ketiga, seorang yang Rabbani memiliki kedalaman pandangan tentang politik ( al bashirah bis siyasah). sederhananya, ia memiliki seni membuat kebijakan yang menentramkan bagi semua.
Poin keempat, kepemimpinan Rabbani dicirikan oleh kemampuan manajemen dan memberdayakan sesuatu,secara tepat. Ia pandai memposisikan seseorang untuk menghasilkan performansi baik kerja dan ibadah secara maksimal. Terakhir, kepemimpinan Rabbani memiliki kepedulian pada kepentingan publik. Betapa, kita sadari, kita selalu merindukan diri kita menjadi insan Rabbani sekaligus dipimpin oleh pemimpin yang Rabbani. Pemimpin Rabbani, dapat secaa tegas menggaransi kesejahteraan yang dipimpin. Kini, di awal tahun ini kita berharap masing-masing kita adalah insan yang Rabbani. Dan akhirnya, mari berdoa, agar kita menjadi insan Rabbani, sekaligus dikaruniakan pemimpin yang Rabbani; pemimpin yang dicintaiNya dan dicintai rakyatnya. Amin.
Selasa, 12 Januari 2010
..dan aku kini akan mencoba mencintai cinta..juga menjaga cinta..agar ia tetap seputih harapan Tuhan...aku ingin mencintai cinta...dan membangun sebuah istana, tapi kelak,,kini aku akan mengumpulkan batu batu kata juga menggali potensi hingga paling dalam,,agar pondasi cinta kelak kuat,,dan menguatkan..aku belum melanjutkan untuk membangun cinta...
menepikan gelisah...aku tak mau karam di lautan perasaan,,ombak ombak itu, sebagian aku ciptakan, sebagian diciptakannya, dan seluruhnya diarahkaNya...cinta adalah pelita...dan jika ia meluka,,maka kita harus bertanya; itukah cinta? cinta tak pernah meluka,,jika saja ia kita anggap pernah meluka, kita pantas bertanya,,, sudahkah mencintai cinta? kita merasa luka, karena kadang kita egois, menuntut hal-hal yang belum dipenuhinya...
Langganan:
Komentar (Atom)
